INFOTREN.ID - Di atas meja sebuah rumah sepi di Kerobokan, polisi menemukan selembar surat yang membuka lapisan terdalam dari kematian seorang perempuan warga negara Rusia. Dalam surat itu, satu nama disebut secara langsung: Vladimir Putin.
Bagi perempuan berinisial VG (50), Presiden Rusia itu bukan sekadar figur politik yang jauh di Moskwa. Ia adalah simbol dari keputusan negara yang, menurut pengakuannya sendiri, telah “mengambil segalanya” dari hidupnya.
VG ditemukan meninggal dunia di rumah yang ia tinggali seorang diri. Polisi memastikan tidak ada unsur pidana dalam peristiwa tersebut. Namun, surat wasiat yang ditinggalkannya menghadirkan konteks yang jauh melampaui batas lokasi kejadian—menarik garis lurus dari sebuah konflik geopolitik hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan seseorang di tanah rantau.
Dalam surat itu, VG menuliskan kekecewaan mendalam terhadap kebijakan perang Rusia–Ukraina yang diputuskan pemerintah negaranya. Ia mengaku berhenti bekerja karena hati nuraninya menolak membayar pajak yang, menurut keyakinannya, digunakan untuk membiayai perang. Dalam kalimat yang paling tajam, ia menulis bahwa Putin telah mengambil segalanya darinya, menyisakan masa depan yang ia anggap tak lagi layak dijalani.
Kesaksian tersebut sejalan dengan keterangan pemilik rumah, Made Nasia, yang menyebut VG telah lama menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis. Korban hidup menyendiri, jarang keluar rumah, dan semakin menarik diri dari lingkungan sekitar. Ia bahkan sempat dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan mental.
“Dokter menyatakan korban mengalami depresi,” ujar Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti dari Polres Badung, mengutip keterangan saksi dalam penyelidikan.
Surat wasiat VG tidak hanya memuat kritik politik. Isinya juga sangat personal, nyaris domestik. Ia meninggalkan instruksi rinci tentang perawatan kucing kesayangannya, menyatakan persetujuan untuk donor organ bila memungkinkan, serta meminta agar pakaian dan barang-barangnya disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
Untuk dirinya sendiri, VG tidak menginginkan upacara apa pun. Ia meminta jenazahnya dikremasi di Bali, dengan abu ditebarkan ke laut. Sejumlah uang telah ia siapkan untuk memastikan proses itu berjalan tanpa merepotkan siapa pun. Di bagian akhir surat, ia meminta agar saudaranya dihubungi, lalu menutup pesannya dengan permintaan maaf.
Bagi kepolisian, seluruh temuan—surat, barang pribadi, dan kondisi lokasi—telah cukup untuk menyimpulkan tidak adanya tindak kriminal. Namun bagi publik, surat itu menyisakan pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana keputusan politik sebuah negara dapat menjalar hingga menghancurkan kehidupan individu yang jauh dari pusat kekuasaan.


