INFOTREN.ID - Denpasar, Jumat pagi yang berbeda. Di halaman suci, puluhan birokrat duduk bersila, bukan di belakang meja. Wangi dupa menggantikan bau kertas dan tinta. Asapnya menari pelan, menyelimuti keheningan yang disengaja. 

Ini bukan protes, bukan mogok kerja. Ini Tirtayatra—sebuah ritual yang, di tangan I Made Daging, Kepala Kanwil BPN Bali, justru menjadi strategi kepemimpinan yang paling radikal: menata pelayanan publik dari dalam, dimulai dari ketenangan batin.

Di saat namanya kerap muncul di berita dengan narasi hukum yang rumit, pria ini memilih diam. Bukan diam yang pasif, melainkan diam yang produktif; sebuah keheningan aktif untuk menguatkan fondasi pelayanan.

Percakapan kami setelah ritual bukan wawancara biasa. Ini adalah celah melihat bagaimana seorang pemimpin Bali menghadapi ujian: bukan dengan konfrontasi, tapi dengan keseimbangan.

Bukan Agenda Keagamaan, Tapi "Maintenance" Hati Aparatur

iklan sidebar-1

“Ini soal menjaga keseimbangan,” ujar I Made Daging, suaranya tenang. “Kalau batin tidak dijaga, pekerjaan bisa berubah menjadi beban.”

Jawaban itu meluncur sederhana, tapi menghantam asumsi kita tentang birokrasi. Di era di mana KPI, target, dan digitalisasi jadi mantra, Made justru mengajak anak buahnya berhenti. Merenung. Menjernihkan niat. 

Dalam analisisnya, ini adalah preventive measure yang cerdas. Tekanan pelayanan publik yang massif dan kompleks bisa mengerus integritas dan empati. 

Tirtayatra adalah cara recharging nilai-nilai itu sebelum mereka terkikis. Praktik ini bukanlah respons situasional terhadap keadaan pribadinya, melainkan bagian dari budaya kerja yang telah dijaga—sebuah investasi pada kualitas manusia di dalam sistem, terlepas dari proses hukum yang berjalan di luarnya.