INFOTREN.ID - Di sebuah sudut Banyuwangi, lahir seorang anak bernama Bambang Haryono. Takdir membawanya tumbuh dalam keterbatasan, ayahnya wafat saat ia masih kecil, dan ibunya harus berjuang menjual kue basah untuk menghidupi keluarga. Namun, keterbatasan itu tak memadamkan mimpi Bambang. Justru, di sanalah api semangatnya mulai membara. Kisah inspiratif ini adalah tentang bagaimana seorang anak kecil dengan mimpi besar mampu menaklukkan keterbatasan dan meraih kesuksesan mendunia.
Gemblengan Kehidupan
Bambang kecil sudah terbiasa mengencangkan ikat pinggang, hanya makan dua kali sehari. Pendidikan saudara-saudaranya pun terancam putus sekolah karena masalah biaya. Namun, Bambang tak menyerah. Sejak SMP, ia sudah bekerja menganyam kursi karet pentil dengan upah Rp 75 per set. Jiwa bisnisnya terus berkembang, ia berjualan temulawak, jajanan, hingga es lilin yang dibuatnya sendiri.
Jatuh Bangun Pengusaha Muda
"Mulai SMP saya sudah kerja. Pernah jadi sales, pelatih senam, sampai pelatih renang. Modal nekat, mau tidak mau harus saya lakukan," kenang Bambang dilansir dari Kompas.com (26/1). Kegagalan demi kegagalan tak membuatnya patah semangat. Baginya, "Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Kita dukung dengan doa dan disiplin, pasti terealisasi."
Titik Balik dan Kebangkitan
Bisnis Bambang terus berkembang hingga ia memiliki pusat oleh-oleh pada tahun 1988. Namun, di tengah kesuksesan itu, ia mengalami titik terendah dalam hidupnya. Karyawan yang dipercayainya membawa kabur motor yang sudah dikredit, membuatnya terlilit utang dan stres berat.
Bangkit dari Keterpurukan
Namun, Bambang tidak menyerah pada keadaan. Ia melihat anak istrinya yang sedang tidur dan menyadari bahwa ia harus bangkit. "Kalau saya tidak bangkit siapa lagi," ujarnya. Dengan semangat baru, ia kembali bekerja keras dan mencari jalan keluar dari masalahnya.



