INFOTREN.ID - Di balik awan duka yang menyelimuti kecelakaan pesawat ATR 42-500 di pegunungan Sulawesi Selatan, terukir sebuah kisah tentang seorang pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono. Lebih dari sekadar pramugari, ia adalah sosok yang menginspirasi, dicintai, dan dikenang oleh keluarga serta rekan-rekannya.
Panggilan Terakhir di Grand Heaven
Di rumah duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, isak tangis dan doa mengiringi peti jenazah pramugari Florencia. Kerabat dan sahabat berkumpul, mengenang senyum dan kebaikan hatinya. Pramugari Florencia, atau Olen, meninggalkan jejak mendalam bagi setiap orang yang mengenalnya.
Video Call Terakhir dengan Sang Kakak
Natasya Wibisono, kakak kandung Olen, berbagi cerita tentang komunikasi terakhir mereka. Sebuah video call sehari sebelum tragedi, saat Natasya berada di pesawat yang mengalami penundaan.
“Jadi saat itu dia (Olen) video call saya, itu sore tepatnya. Dia tanya ‘Kakak di mana?’. Terus ya aku bilang ‘Ini Kakak lagi delay tapi di dalam pesawat, belum diturunin',” ujar Natasya, dikutip dari Kompas.com (23/1).
Olen sempat menanyakan kru pesawat yang ditumpangi kakaknya, menunjukkan perhatian dan kepeduliannya. Percakapan itu menjadi kenangan terakhir yang tak ternilai harganya.
Di Mata Keluarga: Ceria dan Suka Menolong
Bagi keluarga, Olen adalah sosok yang ceria, baik hati, dan selalu siap membantu. Natasya mengungkapkan bahwa keluarga berusaha untuk selalu mengingat Olen sebagai adik yang cantik dan penuh semangat.

