INFOTREN.ID - Malam penutupan 2025 di Denpasar Timur seharusnya diisi suara petasan dan hitung mundur pergantian tahun. Namun di kawasan permukiman padat Jalan Akasia XVI, Kesiman, suasana berubah drastis. Salah paham soal kembang api berakhir dengan darah, tombak, dan rasa aman yang runtuh seketika.
Rabu malam, 31 Desember 2025 sekitar pukul 19.30 WITA, seorang mahasiswa bernama Kristianus Bayu AP Soares, 24 tahun, ditusuk menggunakan senjata tajam jenis tombak. Pelaku disebut bernama Gung Kris. Lokasi kejadian berada di lingkungan kos-kosan, area yang seharusnya jauh dari kekerasan terbuka.
Peristiwa bermula dari kejadian yang nyaris klise setiap malam tahun baru. Sekelompok remaja bermain kembang api di depan warung. Pemilik warung menegur karena khawatir mengganggu balita yang sedang tidur. Teguran itu sempat meredakan situasi, namun tak lama kemudian tiga pemuda datang kembali dan menyalakan petasan di tempat yang sama.
Wayan, warga sekitar yang menyaksikan kejadian, mengatakan ketegangan meningkat cepat. “Awalnya cuma ditegur baik-baik. Tapi mereka tersinggung. Suasana langsung panas, orang-orang mulai berkumpul,” ujarnya.
Situasi memuncak ketika korban ikut terlibat adu mulut dan dorong-dorongan dengan salah satu pemuda yang belakangan diketahui anggota organisasi kepemudaan. Menurut Wayan, keributan sebenarnya sempat reda. “Korban sudah pergi balik ke kos. Kami kira selesai,” katanya.
Namun ketenangan itu hanya ilusi. Tak lama berselang, sekelompok orang mendatangi kos korban. Pintu diketuk keras. Dalam waktu singkat, konflik kembali meledak, kali ini tanpa ruang dialog. Tombak digunakan. Darah tertumpah di malam pergantian tahun.
Peristiwa ini menyingkap rapuhnya pengamanan ketertiban masyarakat di jam-jam krusial. Di saat aparat seharusnya siaga penuh, konflik kecil berkembang menjadi kekerasan serius di lingkungan padat penduduk.
Kasus ini lebih dari sekadar perkelahian. Ia menunjukkan bagaimana emosi, simbol kekuasaan, dan pembiaran bisa bertemu dalam satu malam. Kembang api kembali menjadi pemicu, sementara negara datang terlambat.
Infotren Bali juga mengantongi rekaman CCTV dari sekitar lokasi kejadian yang memperlihatkan pergerakan sejumlah orang sebelum dan sesudah penusukan terjadi. Rekaman tersebut membuka petunjuk penting tentang bagaimana konflik kecil berkembang menjadi kekerasan terbuka di ruang publik, dan kini menjadi kunci bagi aparat untuk menelusuri tanggung jawab serta celah pengamanan yang patut dipertanyakan.


