INFOTREN.ID - Bali menutup 2025 dengan suasana yang terasa janggal. Pantai Kuta tidak sepenuh biasanya. Lalu lintas lebih lengang, kursi-kursi pantai banyak kosong, dan wisatawan tampak datang tanpa euforia. Namun di tengah sepinya akhir tahun itu, satu hal justru tampil dominan dan tak pernah absen: gunungan sampah.
Rabu sore, 31 Desember 2025, Kuta terlihat seperti sedang beristirahat dari hiruk pikuk pariwisata. Cuaca gerah, langit mendung, sunset urung hadir. Beberapa peselancar masih turun ke laut, para pedagang tetap setia menunggu pembeli. Tapi yang paling setia menemani pantai justru tumpukan sampah di pintu-pintu masuk kawasan elit ini.
Di depan Hotel Tribe dan Mamaka, sampah plastik terbungkus seadanya menumpuk tanpa penanganan jelas. Di pintu masuk dekat CK, pemandangannya lebih “ambisius”: gelas air mineral, bambu, kayu, batok kelapa, dan aneka limbah lain menggunung hingga sekitar tiga meter.
Di tengah sepinya wisatawan, gunung-gunung ini justru berdiri megah, seolah proyek infrastruktur yang berhasil diselesaikan tepat waktu sebelum tutup tahun.
Somad (46), wisatawan asal Jakarta, mengaku heran. “Balinyaa lagi sepi, tapi sampahnya nggak ikut libur. Katanya mau pariwisata berkualitas, tapi pintu masuk pantai saja begini,” katanya sambil tertawa kecut.
Pemandangan ini terasa ironis. Saat Bali berharap bangkit dengan konsep wisata yang lebih bersih dan berkelas, masalah paling mendasar justru terus berulang.
Sampah tetap datang, meski wisatawan tak seramai dulu. Seakan-akan krisis ini sudah menjadi tradisi tahunan yang lebih konsisten daripada janji perubahan.
Menjelang 2026, harapan tentu masih ada. Bali selalu pandai berharap. Meski harapan itu kadang terasa nyaris mustahil, terutama ketika gunung-gunung sampah masih berdiri di kawasan yang disebut etalase pariwisata dunia.
Tapi barangkali, seperti tahun-tahun sebelumnya, harapan tetap harus disimpan. Kalau bukan untuk diwujudkan, setidaknya untuk diulang kembali tahun depan.


