INFOTREN.ID - Di era digital yang serba cepat, pendidikan seharusnya menjadi garda terdepan dalam memanfaatkan teknologi.

Namun, mimpi indah itu ternoda oleh skandal korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek.

Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), kini menjadi sorotan utama.

Penetapannya sebagai tersangka membuka tabir ironi, di mana niat baik digitalisasi justru berujung pada kerugian negara yang fantastis.

Artikel ini adalah kritik konstruktif, menggali lebih dalam akar masalah dan menawarkan perspektif objektif atas tragedi ini.
 
Mengapa Chromebook? Sebuah Pertanyaan Retoris
 
Mengapa Chromebook, bukan laptop Windows? Pertanyaan ini menjadi krusial ketika kita menelisik kronologi kasus ini.

iklan sidebar-1

Hotman Paris Hutapea, kuasa hukum Nadiem Makarim, berdalih bahwa Chromebook lebih murah karena lisensi Chrome Device Management (CDM) lebih terjangkau dibandingkan Windows.

Namun, benarkah efisiensi biaya menjadi satu-satunya alasan? Atau adakah faktor lain yang lebih subtil, seperti kedekatan dengan pihak Google, yang mempengaruhi keputusan ini?
 
Kongkalikong dan Konspirasi?
 
Kejaksaan Agung (Kejagung) menuding adanya kongkalikong antara Nadiem Makarim dan perwakilan Google, jauh sebelum pengadaan Chromebook dimulai.

Bahkan, ada grup WhatsApp bernama "Mas Menteri Core Team" yang membahas rencana pengadaan ini sejak Agustus 2019, sebelum Nadiem resmi menjabat sebagai menteri.

Apakah ini hanya kebetulan, ataukah ada skenario tersembunyi yang dimainkan di balik layar?
 
Realitas Pahit di Lapangan
 
Terlepas dari argumen efisiensi biaya dan dugaan konspirasi, satu fakta tak terbantahkan: Chromebook tidak optimal digunakan oleh pelajar di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).