INFOTREN.ID - Penonaktifan fitur Live di platform media sosial TikTok saat berlangsungnya unjuk rasa (Demonstrasi) menuai sorotan tajam.
Tindakan ini dianggap sebagai bentuk perlindungan terhadap jurnalisme warga dan kebebasan berpendapat.
Di tengah gelombang yang menyuarakan aspirasi masyarakat, keputusan ini justru menimbulkan pertanyaan besar tentang komitmen platform terhadap demokrasi dan keterbukaan informasi.
Jejak Digital: TikTok sebagai Ruang Ekspresi
Selama aksi refleksi, fitur TikTok Live menjadi salah satu media penting bagi untuk berbagi informasi secara langsung dan real-time.
Para demonstran menggunakan platform ini untuk menyebarkan informasi terkini yang terjadi di lapangan, melampaui batasan yang mungkin diterapkan oleh media arus utama.
Kecepatan dan kemudahan aksesibilitas TikTok Live menjadikannya alat yang ampuh untuk jurnalisme warga.
Suara Akademisi: Kritik dari UGM
Dosen Ilmu Komunikasi UGM, Syaifa Tania, SIP, MA, menyayangkan penonaktifan fitur TikTok Live tersebut.
“Penonaktifan fitur ini tentu mengakibatkan masyarakat kehilangan satu saluran informasi yang penting untuk berbagi informasi secara langsung,” ungkap Tania dilansir dari laman resmi UGM.
Ia menambahkan, fitur ini seharusnya dapat berperan sebagai media jurnalisme warga, yang memungkinkan informasi disampaikan secara cepat, meminimalkan intervensi atau sensor, dan menjangkau pengguna media digital secara luas.


