INFOTREN.ID— Di Bali, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah ruang percakapan, jeda di tengah kesibukan, sekaligus simbol pergaulan lintas generasi. Di sela budaya ngopi itulah Gubernur Bali Wayan Koster kembali berbagi cerita yang memantik perhatian publik: kebiasaannya meminum kopi yang dicampur arak Bali sebagai cara menjaga asam lambung tetap stabil.

Cerita itu disampaikan Koster saat singgah di sebuah kedai kopi di Denpasar. Menurutnya, minum kopi tanpa campuran justru membuat asam lambungnya naik. Sebaliknya, ketika kopi dicampur arak Bali, tubuhnya terasa lebih “netral”.

“Saya dapat pengetahuan itu dari masyarakat Karangasem,” kata Koster, merujuk pada wilayah yang sejak lama dikenal sebagai sentra arak tradisional Bali. Pengetahuan lokal itu, ujarnya, tidak hanya didengar, tetapi juga diuji secara personal dalam rutinitas harian.

Koster bahkan menyebut racikan kopi-arak sebagai “SOP pribadi”. Setiap hari, ia mengonsumsinya tiga kali: pagi, siang, dan sore. Bagi Koster, kombinasi kafein dan alkohol tersebut bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari pola hidup yang menurut pengalamannya tidak menimbulkan keluhan kesehatan.

Pernyataan ini tentu mengundang beragam tafsir. Di satu sisi, kisah tersebut dibaca sebagai contoh kearifan lokal—pengetahuan turun-temurun yang hidup di masyarakat Bali Timur. Di sisi lain, publik juga menempatkannya sebagai cerita personal, bukan anjuran kesehatan yang bisa digeneralisasi.

iklan sidebar-1

Dalam konteks Bali, arak bukan minuman sembarangan. Ia memiliki posisi budaya yang panjang: digunakan dalam upacara adat, ritual, dan kehidupan sosial tertentu. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah bahkan mendorong legalisasi dan pengakuan arak Bali sebagai produk budaya, sekaligus sumber ekonomi masyarakat lokal.

Cerita kopi campur arak dari seorang gubernur pun akhirnya berdiri di persimpangan: antara kebiasaan individu, simbol budaya, dan persepsi publik terhadap figur pemimpin. Apalagi, pernyataan tersebut disampaikan secara santai di ruang publik, tempat cerita personal mudah berubah menjadi bahan perbincangan luas.

Di hari yang sama, Koster juga melakukan aktivitas yang jauh dari kesan formal pemerintahan. Ia mentraktir kopi dan babi guling bagi warga di sejumlah lokasi di Denpasar dan Badung. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka Tumpek Krulut, hari kasih sayang dalam tradisi Hindu Bali.

Menurut Koster, Tumpek Krulut tidak hanya dimaknai secara spiritual (niskala) melalui persembahyangan, tetapi juga secara nyata (sekala) lewat perjumpaan sosial. Ngopi bersama anak muda, menyapa warga, dan makan bersama menjadi bagian dari cara merayakan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.