INFOTREN.ID - Bali kembali diposisikan sebagai lokomotif pariwisata Indonesia. Gubernur Wayan Koster menyebut devisa dari wisatawan mancanegara diperkirakan mencapai Rp 170 triliun, atau sekitar 53 persen dari total devisa pariwisata nasional. Pernyataan itu disampaikan pada 7 Januari 2026 saat peletakan batu pertama pembangunan jalan pintas Singaraja Mengwitani di Desa Gitgit, Buleleng. Menurut Koster, sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi Bali.

Angka tersebut menggambarkan potret kebangkitan yang mengesankan. Hingga Desember 2025, total kunjungan ke Bali dilaporkan mencapai 7,05 juta wisatawan, melampaui periode sebelum pandemi yang berkisar 6,2 juta. Tingkat hunian hotel di berbagai wilayah juga disebut berada di rentang 75 hingga 85 persen. Koster menegaskan bahwa narasi Bali sepi tidak benar dan yang terjadi justru lonjakan signifikan.

Namun, di balik perayaan statistik, muncul pertanyaan lama yang belum terjawab. Apakah keberhasilan itu berjalan seiring dengan kualitas sistem yang dialami warga dan wisatawan? Bali selama ini kerap mengukur sukses melalui jumlah kedatangan dan total rupiah yang dihasilkan. Pendekatan tersebut memang penting bagi laporan resmi, tetapi tidak selalu cukup bagi mereka yang hidup di ruang keseharian pulau ini.

Mata Uang Bernama Pengunjung

Panen besar pariwisata menciptakan ekosistem baru: hotel penuh, restoran ramai, dan layanan yang makin melebar menyasar tamu asing. Dari sudut pandang pemerintah, kondisi ini adalah bukti bahwa mesin ekonomi kembali berputar. Tetapi bagi masyarakat, mesin itu sering terasa berderit.

iklan sidebar-1

Tri Wibowo Santoso, Direktur Lingkar Study Data dan Informasi (LSDI), menilai euforia angka berpotensi menutup kelemahan mendasar. “Perayaan kedatangan tidak boleh membutakan Bali terhadap titik rapuh pariwisatanya,” ujar Santoso. Menurutnya, angka bisa menunjukkan pemulihan, tetapi belum tentu menunjukkan keadilan. Devisa yang besar tidak otomatis sampai kepada petani, pekerja kecil, atau pengemudi yang sesungguhnya menjadi wajah tuan rumah bagi wisatawan.

Ia menambahkan bahwa kesan pertama sebuah destinasi lahir dari layanan di titik kedatangan. Bila Ngurah Rai menjadi ruang kebingungan dalam penataan harga dan transport, maka janji quality tourism sudah retak di dua puluh menit pertama.

Lobi Mewah, Kenyataan Lokal

Di Seminyak dan Ubud, resor kelas atas menjual panorama dan pengalaman premium. Di regensi yang lebih rural, warga sering merasa hanya menjadi penonton. Made Sudharta, pemilik usaha kecil di Bali timur, mengatakan lonjakan pariwisata tidak selalu menenteramkan. “Kami melihat dolar lewat di jalan kami, tapi anak anak kami tetap pergi mencari kerja,” katanya, menggambarkan ketidakpastian yang tidak masuk dalam tabel pemerintah.