Di tengah status tersangka dan sorotan media, I Made Daging tidak berteriak membela diri. Ia memilih ketenangan, pelayanan, dan soto ayam istrinya. Sebuah pelajaran tentang Dharma di zaman yang gaduh.

INFOTREN.ID - Suatu malam di bulan Januari 2026, ketika jam kantor telah lama lewat dan Denpasar mulai kembali ke ritmenya yang tenang, saya berada di ruang Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Bali. Bukan sebagai wartawan yang datang membawa daftar pertanyaan, melainkan sebagai tamu yang diajak duduk, ngopi, dan berbincang santai. Pertemuan itu tidak dirancang sebagai wawancara. Tidak ada tekanan. Tidak ada agenda.

Yang paling saya ingat justru bukan pembicaraan awalnya, melainkan hidangan yang disuguhkan. Semangkuk soto ayam lengkap dengan bakso. Dengan nada yang nyaris seperti ingin memastikan, beliau berulang kali berkata, “Ini langsung ibu yang buat.” Istrinya memasak sendiri, khusus untuk malam itu. Dan jujur saja, rasanya memang enak. Ada kehangatan yang tidak dibuat-buat, seperti sedang bertamu ke rumah sendiri.

Pria yang duduk di hadapan saya adalah I Made Daging, Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Bali. Saat itu, status tersangka yang ditetapkan Polda Bali sejak 10 Desember 2025 sudah melekat lebih dari sebulan. Proses hukum masih berjalan, sorotan publik belum reda. Namun sejak awal kami sepakat, malam itu bukan untuk membedah pasal demi pasal. Kami berbincang tentang manusia. Tentang bagaimana seseorang berdiri ketika hidup menekan dari segala arah.

Saya lalu bertanya, bagaimana bapak menghadapi masalah seberat ini?

iklan sidebar-1

Jawabannya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan.
“Saya punya Tuhan. Saya percaya dan saya serahkan semuanya kepada-Nya.”

Terus terang, saat itu jawaban tersebut terasa klise. Kalimat yang sering kita dengar, tetapi jarang benar-benar kita renungkan maknanya. Seperti jawaban aman yang menutup percakapan.

Namun waktu mengubah cara kita memahami kata-kata.

Dalam hari-hari setelah pertemuan itu, saya mulai melihat pola. Ketenangannya. Konsistensinya. Perjalanan spiritualnya ke sejumlah pura suci, termasuk ke Nusa Penida. Bukan sebagai pertunjukan, bukan pula untuk konsumsi publik, melainkan sebagai bentuk penyerahan diri yang nyata. Ia tidak sekadar mengucap, tetapi menjalani.