INFOTREN.ID - Kelelahan emosional dan kehilangan keseimbangan hidup banyak dialami para profesional di kalangan berprestasi tinggi (high achievers) meskipun telah mencapai stabilitas finansial. Menurut Survei Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025, ada 50,98% pekerja mengalami burnout, yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas. 

Kondisi tersebut membuat The Finer Society (TFS) hadir sebagai ruang jeda eksklusif untuk membantu para high achievers memulihkan keseimbangan mental dan emosional tanpa mengorbankan performa profesional.

“Di era yang produktif namun penuh tekanan, baik dari sisi pekerjaan ataupun ritme hidup yang makin cepat, The Finer Society menawarkan sanctuary bagi para pekerja level tinggi perusahaan dan profesional usia 30 - 45 tahun yang lupa cara menerima diri sendiri,” jelas Tentry Yudvi, Co-Founder & Chief Executive Officer The Finer Society dalam siaran pers pada 14 Januari 2026.

“Di tengah gelombang burnout, kami hadir bukan sebagai liburan, tapi pengalaman healing terkurasi yang dirancang untuk menyentuh tubuh, emosi, dan koneksi manusia secara utuh,” lanjutnya.

Berbeda dari retreat konvensional, setiap program The Finer Society didampingi oleh tenaga profesional, mulai dari psikolog, wellness consultant, hingga fasilitator refleksi berpengalaman, yang memastikan proses pemulihan berlangsung aman, terarah, dan berkelanjutan. Pendampingan ini memungkinkan peserta bukan sekadar beristirahat, tetapi juga memahami pola stres, emosi, dan kebutuhan personal secara lebih mendalam.

iklan sidebar-1

The Finer Society membantu para high achievers memulihkan keseimbangan mental dan emosional tanpa mengorbankan performa profesional. foto: The Finer Society

Dalam kelompok kecil yang intim, maksimal 15 peserta, The Finer Society menghadirkan pengalaman yang dirancang secara personal dan bermakna. Peserta dapat mengikuti rangkaian aktivitas yang memadukan fine dining berbasis narasi lokal, journaling therapy, reflective yoga, serta ritual alam yang mendorong keheningan, refleksi, dan dialog jujur dengan diri sendiri.

Pendekatan ini menciptakan ruang yang aman secara emosional, di mana para peserta dapat melepas peran profesional, menurunkan kewaspadaan, dan hadir sepenuhnya sebagai manusia, bukan semata sebagai pemimpin, jabatan, atau pencapaian. 

Salah satu peserta membagikan pengalamannya, bahwa retreat ini memberinya ruang untuk benar-benar berhenti, merasa aman untuk rapuh, dan pulang dengan pemahaman baru tentang diri sendiri.