INFOTREN.ID - Pada penutupan perdagangan, rupiah menguat sebesar 10 poin atau sekitar 0,06% ke level Rp 16.185 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat menguat lebih tajam, mencapai 51,5 poin atau 0,32%, hingga posisi Rp 16.195 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS justru melemah 0,22% menjadi 96,96.
Analis valuta asing, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pasar tengah waswas menyusul rencana tarif impor dari AS yang akan mulai diberlakukan pada 9 Juli mendatang. Rencana ini diumumkan oleh mantan Presiden Trump, yang menyatakan akan mengirim surat kepada negara-negara ekonomi utama yang akan menjadi sasaran tarif dengan besaran antara 20% hingga 50%. Trump sebelumnya pernah menyatakan target menandatangani 90 kesepakatan perdagangan dalam 90 hari, namun kini mengakui bahwa proses tersebut jauh lebih kompleks.
Hingga saat ini, AS baru saja menyepakati perjanjian dagang dengan Inggris dan Vietnam, serta sebuah kerangka kerja dengan China. Ibrahim menilai, jika tarif tersebut diterapkan secara penuh, hal itu berpotensi mengganggu perdagangan global dan memberikan tekanan pada negara-negara Asia yang sangat bergantung pada ekspor.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul akibat defisit fiskal AS yang membengkak setelah Kongres menyetujui RUU pemotongan pajak besar-besaran yang diajukan Trump. RUU tersebut juga mencakup peningkatan pengamanan perbatasan dan pengurangan pengeluaran sosial. Kantor Anggaran Kongres memperkirakan RUU ini akan menambah utang nasional AS sebesar 3,4 triliun dolar dari total 36,2 triliun dolar.
Di sisi lain, ada tanda-tanda membaiknya hubungan dagang antara AS dan Asia, khususnya China, setelah Washington mencabut beberapa pembatasan ekspor chip. China pun sedang meninjau ulang lisensi ekspor untuk perusahaan tanah jarang mereka sebagai respons atas pencabutan tersebut.
Sementara itu, Bank Indonesia memberikan sinyal akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan (BI-Rate), yang sudah diturunkan dua kali masing-masing 25 basis poin pada Januari dan Mei 2025, menjadi 5,5%. Ibrahim menyebut masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan proyeksi inflasi yang tetap rendah.
Mengenai perdagangan di hari Senin mendatang, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan kemungkinan ditutup melemah di kisaran Rp 16.140 hingga Rp 16.190 per dolar AS.(*)


