INFOTREN.ID - Nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami tekanan kembali pada perdagangan pekan depan, menyusul kekhawatiran pasar terhadap rencana kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat.
Menurut data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (4 Juli 2025), rupiah di pasar spot mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,06% ke posisi Rp 16.185 per dolar AS. Secara mingguan, mata uang garuda juga menguat 0,32%.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) ditutup di level Rp 16.204 per dolar AS, naik 0,17% dibandingkan pekan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa sentimen negatif muncul dari rencana kebijakan tarif impor AS yang akan mulai diterapkan pada 9 Juli 2025. Presiden Donald Trump telah mulai mengirimkan surat pemberitahuan tarif kepada sejumlah negara ekonomi utama. Besaran tarif yang direncanakan berkisar antara 20% hingga 50%.
Ibrahim memperingatkan bahwa jika kebijakan tersebut diterapkan secara menyeluruh, hal ini berpotensi memicu gangguan dalam rantai perdagangan global dan memberi tekanan khususnya bagi negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada ekspor.
“Untuk perdagangan hari Senin (7 Juli), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berakhir melemah, dalam rentang Rp 16.140 – Rp 16.190 per dolar AS,” jelas Ibrahim, Jumat (4/7).
Sementara itu, analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa investor akan cenderung bersikap hati-hati di pekan depan, menjelang batas waktu implementasi tarif pada 9 Juli. Menurutnya, tidak ada rilis data ekonomi eksternal besar yang akan dirilis, kecuali risalah pertemuan FOMC yang berpotensi memberi arah bagi pergerakan pasar.
Lukman menambahkan bahwa meskipun ada potensi pelemahan dolar AS jika kebijakan tarif tidak ditunda lagi oleh Trump, kondisi pasar yang menghindari risiko (risk-off sentiment) akan menghambat penguatan lebih lanjut dari rupiah.
“Proyeksi nilai tukar rupiah pada pekan depan berada dalam kisaran Rp 16.000 – Rp 16.400 per dolar AS,” ujarnya.(*)


