INFOTREN.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan dengan janji mulia: memperbaiki gizi anak sekolah, menumbuhkan generasi sehat, cerdas, dan berdaya.
Namun, alih-alih melahirkan optimisme, kini publik disuguhi kenyataan getir. Beberapa sekolah justru mencatat kasus keracunan massal. Apa yang seharusnya menjadi piring harapan, berubah menjadi catatan kelam.
Dapur Sekolah, Dari Harapan Menjadi Ancaman
Deputi Bidang Pengaduan Masyarakat Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba menyoroti lemahnya pengawasan yang membuat kasus-kasus keracunan berulang.
Kasus terbaru terjadi salah satunya di Garut, Jawa Barat, sebanyak 194 siswa diduga keracunan MBG, 200 siswa dari Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah juga keracunan MBG.
Lalu di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pun demikian. Setidaknya 90 siswa juga mengalami hal serupa.
Peringatan keras pun muncul. “Diperparah lagi dengan pengawasan yang lemah menyebabkan tidak hanya program MBG tidak berjalan efektif, tetapi juga menimbulkan persoalan baru yakni munculnya kasus-kasus keracunan,” kata Baharuddin Kamba.
Pernyataan ini menggambarkan luka kolektif: dapur sekolah yang mestinya menjaga kehidupan, kini justru merenggut rasa aman.
Kritik dan Fakta di Lapangan


