INFOTREN.ID – Aksi unjuk rasa damai para pegawai PLN Nusantara Power Services (NPS) Senin (29/12) lalu, ternyata baru membuka pintu konflik sesungguhnya. Bukan sekadar soal tunjangan, gelombang keresahan justru mengarah langsung ke puncak pimpinan: Direktur Utama Jakfar Sadiq.

Suara Pemberontakan dari Dalam

"Sosoknya arogan. Bossy. Maunya dilayani seperti raja," ujar seorang pegawai yang enggan disebut namanya, kepada wartawan, Selasa (30/12). Kritik pedas itu mewakili getir yang mengendap. Mereka mendesak ada "refreshment" atau pergantian di jajaran direksi, menyebut Jakfar sebagai "Dirut paling arogan" dalam 25 tahun sejarah NPS.

Tuntutannya jelas: ganti pimpinan yang dianggap tak mendengar dan otoriter.

Sang Dirut: "Ini Bukan Konfirmasi, Tapi Fitnah!"

iklan sidebar-1

Jakfar Sadiq, melalui pesan WhatsApp, awalnya berusaha menormalisasi situasi. Ia menyebut demo sebagai hal biasa dalam hubungan industrial dan bentuk dukungan manajemen terhadap kebebasan berekspresi serikat pekerja.

Namun, responsnya berubah dramatis ketika ditanya soal isu "arogan" dan "pelayanan seperti raja". Emosinya meledak.

"Anda menuduh saya... Ini bukan konfirmasi Tapi FITNAH dari anda," tulisnya dengan keras. Ia menantang agar bukti diserahkan ke serikat pekerja dan mengingatkan bahwa "fitnah itu dosa". Tanggapan panjangnya menolak semua tudingan sebagai subjektif dan berpotensi merugikan nama baik institusi.

Misteri dan Upaya "Tutup-Tutupan"