INFOTREN.ID - Nikel Raja Ampat: Ateng Sutisna serukan debat terbuka. Permata dunia terancam kepentingan jangka pendek. Tanggung jawab menjaga warisan alam!
Di jantung Papua Barat, terhampar sebuah surga bernama Raja Ampat. Gugusan pulau-pulau karst yang menjulang megah dari laut biru, hutan-hutan yang rimbun, dan keanekaragaman hayati laut yang memukau.
Karunia dari Sang Maha Kuasa ini menjadikan Raja Ampat sebagai permata dunia yang tak ternilai harganya.
Namun, di balik keindahan yang mempesona itu, tersembunyi sebuah ancaman yang membayangi: pertambangan nikel.
Rencana pembukaan kembali tambang nikel di Raja Ampat telah memicu kekhawatiran mendalam akan kerusakan lingkungan dan hilangnya warisan alam yang tak tergantikan.
Nikel dan Dilema Pembangunan
Nikel, logam yang semakin dicari dalam era kendaraan listrik, menjanjikan investasi dan pertumbuhan ekonomi bagi daerah-daerah yang kaya akan sumber daya ini.
Namun, di Raja Ampat, kehadiran nikel menghadirkan dilema yang kompleks. Di satu sisi, pertambangan nikel dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan daerah, dan memacu pembangunan infrastruktur.
Di sisi lain, aktivitas pertambangan dapat merusak ekosistem yang rapuh, mencemari air dan tanah, serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal yang bergantung pada alam.


