INFOTREN.ID - Pada perdagangan hari ini, Selasa (02/09/2025), nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif, namun ada potensi penguatan seiring dengan meredanya aksi demonstrasi yang terjadi sebelumnya.

‎Pada perdagangan Senin (01/09/2025), rupiah berhasil menguat 82 poin atau 0,49%, menutup transaksi di level Rp16.418,5 per dolar AS. Di sisi lain, dolar AS tercatat mengalami pelemahan, yang tercermin dalam indeks dolar AS yang turun 0,13% menjadi 97,64.

‎Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar forex, memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan tetap berfluktuasi, namun berpotensi menguat dalam kisaran Rp16.370-Rp16.430 per dolar AS pada hari ini. Dia menjelaskan bahwa beberapa sentimen global dan domestik akan memengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Salah satu faktor utama adalah ekspektasi pasar yang semakin kuat mengenai kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga acuan pada bulan September 2025. Sentimen ini diperkuat oleh data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang sesuai dengan perkiraan pasar.

‎Menurut data dari perangkat CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini mencapai hampir 90%. Penurunan suku bunga ini diharapkan dapat meningkatkan minat terhadap aset non-imbal hasil, seperti emas. Ibrahim juga menekankan bahwa pasar kini akan mengamati dengan seksama data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini.

Laporan penggajian non-pertanian yang menunjukkan angka rendah bisa memperkuat argumen untuk pelonggaran moneter lebih lanjut, sementara data yang lebih kuat bisa mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga.

iklan sidebar-1

‎Selain itu, situasi geopolitik tetap menjadi perhatian, di mana Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, berkomitmen untuk membalas serangan udara Rusia dengan memperluas serangan jarak jauh, setelah serangan drone kembali menargetkan infrastruktur listrik Ukraina.

Dari sisi perdagangan internasional, keputusan pengadilan banding AS yang menyatakan sejumlah tarif era Donald Trump ilegal menjadi berita penting, meskipun tarif tersebut tetap berlaku hingga 14 Oktober 2025, memberi waktu bagi pemerintahan Trump untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung.

‎Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$4,17 miliar pada Juli 2025, sedikit lebih tinggi dari surplus Juni yang tercatat sebesar US$4,11 miliar, didorong oleh ekspor CPO dan batu bara.

‎Hingga siang hari ini, rupiah kembali menguat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 26 poin atau 0,16% ke posisi Rp16.392,5 per dolar AS. Pada waktu yang bersamaan, indeks dolar AS sedikit menguat 0,09% ke level 97,86.