INFOTREN.ID - Ketika dunia kian larut dalam hiruk-pikuk digitalisasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) justru memilih langkah sebaliknya: menoleh ke dalam, kembali menyelami akar budaya sendiri.
Melalui Festival Sastra Jawa 2025, Unesa tak hanya menggelar pertunjukan, tetapi mereka menggelar ingatan, identitas, dan harapan.
Digelar pada 28 September 2025 di Gedung Pertunjukan Sawunggaling, Kampus Lidah Wetan, festival ini menghidangkan lebih dari sekadar panggung seni.
Ini menjadi forum terbuka bagi siapa pun yang peduli akan keberlangsungan budaya Jawa.

Bedah Buku Rembugan Buku Ludruk Ilmu Ngglethek Jula-Juli Kartolo dan Opo Jare Tekek Sastra Jula-Juli Karya Sindhunata di Graha Sawunggaling. (Foto: Humas Unesa)
Dari Buku ke Panggung: Menelusuri Jantung Ludruk
Dilansir dari laman resmi Unesa, (30/9/2025), Festival dibuka dengan sesi bedah buku “Ludruk Ilmu Ngglethek: Jula-Juli Kartolo dan Opo Jare Tekek”, karya Romo Sindhunata, jurnalis senior dan penulis budaya.
Dalam paparannya, ia menyebut bahwa buku tersebut lahir dari catatan perjalanannya selama menjadi jurnalis Kompas.
“Ludruk itu bukan sekadar lawakan. Ia adalah panggung di mana wong cilik bersuara tentang emosi, pergulatan, dan penderitaan mereka,” ungkap Romo Sindhu.


