INFOTREND.ID, SOLORAYA - Gereja di Indonesia harus melaksanakan misi yang kontekstual dan harus dipahami secara benar. Pelayanan misi kontekstual merupakan usaha untuk menyampaikan dan menjelaskan Injil yang dengan mudah dipahami oleh masyarakat dalam kelompok budaya tertentu, tanpa melakukan kompromi terhadap integritas isi Injil serta integritas pemberita Injil itu sendiri.  Demikian disampaikan Yohanes Hartawan, Sp SH selaku Pendeta dan Praktisi Hukum asal Solo belum lama ini.

Menurut Yohanes Hartawan, Pelaksanaan misi secara kontekstual merupakan usaha gereja membangun jembatan terhadap kesenjangan dunia kontemporer, sama seperti yang dilakukan oleh gereja Perjanjian Baru pada abad pertama. Membangun jembatan tersebut boleh jadi membutuhkan waktu, usaha dan keahlian khusus, namun hal tersebut sangat penting dalam keberhasilan misi. Salah satu usaha untuk melaksanakan misi secara kontekstual di dunia kontemporer adalah mengembangkan rencana strategis untuk menjangkau komunitas di sekitar gereja. 

“Gereja harus melakukan penjangkauan komunitas yang dimulai oleh komunitas gereja. Baik Gereja selama ini telah berusaha menarik komunitas atau orang-orang yang berada di luar untuk masuk kedalam gereja; namun dalam dunia kontemporer, lebih baik menghadirkan gereja di tengah-tengah masyarakat. Gereja harus berani dan secara serius membangun komunitas Kristen di tengah-tengah masyarakat kontemporer yang sangat kompleks. Gereja harus melakukan segala upaya dengan sumberdaya yang dimilikinya, untuk menjangkau masyarakat yang ada disekitarnya, sehingga mereka mengenal Injil Yesus Kristus,” jelasnya.

Dikatakan, sejatinya gereja di dunia ini selalu berhadapan dengan berbagai zaman dan situasi yang berbeda-beda. Sehubungan dengan perjalanan waktu dan perobahan zaman itu gereja tidak boleh tergilas dan terseret. Setiap zaman yang dihadapinya justru semakin mendewasakannya serta selalu berbenah diri untuk merancang strategi pelayanan yang kekinian (kontekstual). 

Dengan kata lain zaman yang berubah-ubah menantang gereja untuk semakin menunjukkan jati dirinya sebagai persekutuan orang-orang percaya di dunia ini. Dimana jemaat selalu merindukan sentuhan dan penguatan iman secara langsung dari pihak gereja. Maka gereja harus tetap merancang pelayanan yang up to date menghadapi setiap perobahan zaman ini. Sehingga warganya tetap terjaga dan terpelihara karena gereja memberikan pelayanan yang terbaik kepada warganya dimanapun berada.

iklan sidebar-1

Sementara itu, pengacara asal Kota Solo, Naomi Puji Wahyuni SH MH juga mengatakan hal yang sama. Dikatakan gereja tidak boleh tutup mata terhadap era baru digital. Salah satu ciri era ini ditandai dengan kehadiran digital, jaringan internet khususnya teknologi informasi komputer yang tergolong canggih. Hal itu terjadi hampir di setiap lini kehidupan manusia secara cepat dan terjangkau. Kehadiran media baru era digital ini memiliki karakteristik yang cepat diciptakan melalui jaringan atau internet. Media massa beralih ke media baru atau internet karena dianggap tidak terlalu lama dan praktis dalam sebuah penyampaian data dan informasi.

“Maka tidak masuk akal kalau gereja tidak memanfaatkan kesempatan ini dalam meningkatkan pelayanannya kepada jemaat. Dengan demikian gereja harus merespon era ini dalam melaksanakan pelayanan secara maksimal kepada warganya. Sehingga mereka tidak menganggap bahwa gereja ketinggalan zaman dalam menjawab kebutuhan pelayanan,” paparnya.

Menurut Naomi, Era digital ini menuntut gereja untuk berbenah diri dan menciptakan berbagai bentuk pelayanan yang menyentuh segi kehidupan warganya. Kalau tidak, gereja semakin lama semakin ditinggalkan oleh warganya dan pindah ke gereja yang lain yang menyediakan program pelayanan berbasis digital. Mereka hanya terdaftar sebagai anggota jemaat namun pelayanan kerohanian diperoleh dari gereja lain. Karena dianggap pelayanan yang kurang berkualitas dan ketinggalan zaman. Baik ibadah, penyampaian firman dan penggunaan perangkat-perangkat ibadah masih tradisional yang tidak cocok lagi. Termasuk pelayanan kepada semua kategorial, anak-anak, pemuda dan terutama lansia.

Gereja yang kontesktual di era digital justru membangkitkan semangat pelayanan terhadap warga jemaat untuk menjawab kebutuhan kehidupan warganya. Sehingga warga merasakan manfaat dari gereja itu sendiri. Pelayanan gereja yang kontekstual di era digital ialah bagaimana pelayanan semakin baik dan menyentuh kehidupan warga secara langsung. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia dan jompo tidak luput dari perhatian gereja.