INFOTREN.ID - Tanaman babadotan atau bandotan (Ageratum conyzoides) selama ini dikenal luas sebagai gulma yang mengganggu tanaman budidaya.
Namun, di balik reputasinya sebagai pengganggu, tanaman liar ini menyimpan potensi luar biasa, salah satunya sebagai sumber alternatif energi terbarukan, yaitu bahan bakar nabati (biofuel).
Meskipun penelitian yang paling banyak terdokumentasi mengenai babadotan adalah penggunaannya sebagai obat herbal dan biopestisida/bioherbisida karena kandungan senyawa aktifnya (seperti minyak atsiri, saponin, flavonoid, dan polifenol), potensi tanaman ini sebagai bahan baku energi layak untuk dieksplorasi lebih jauh.
Potensi babadotan sebagai bahan bakar nabati terletak pada kandungan kimiawinya. Tanaman ini diketahui mengandung minyak atsiri yang cukup signifikan. Minyak atsiri terdiri dari berbagai komponen hidrokarbon dan senyawa organik yang mudah menguap.
Secara umum, biomassa yang mengandung banyak karbohidrat (seperti gula atau pati) dapat diolah menjadi bioetanol melalui fermentasi. Sementara itu, biomassa lignoselulosa (batang dan daun) dapat diolah menjadi bio-oil melalui proses termokimia seperti pirolisis.
Meskipun bukan minyak lemak seperti pada kelapa sawit atau jarak, minyak atsiri dari babadotan dapat dimanfaatkan sebagai bahan awal (starting material) dalam proses kimia tertentu untuk menghasilkan turunan bahan bakar.
Jika babadotan dikembangkan sebagai sumber energi, beberapa jalur pengolahan yang mungkin dilakukan antara lain:
- Pirolisis Biomassa
Seluruh bagian tanaman (batang dan daun) dapat diolah melalui proses pirolisis (pemanasan tanpa oksigen) untuk menghasilkan bio-oil. Bio-oil ini selanjutnya dapat ditingkatkan kualitasnya (upgrading) menjadi bahan bakar cair yang setara dengan bahan bakar fosil.


