Infotren.id - Di era digital saat ini, batas antara kenyataan dan rekayasa semakin tipis. Teknologi baru bernama deepfake muncul sebagai salah satu inovasi yang mengundang rasa kagum sekaligus kekhawatiran. Di satu sisi, teknologi ini mampu menghadirkan kembali tokoh sejarah atau artis yang sudah tiada dalam bentuk nyata. Namun di sisi lain, teknologi ini juga membuka peluang besar untuk penipuan, penyebaran hoaks, hingga perusakan reputasi seseorang.

Deepfake adalah teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang digunakan untuk memanipulasi wajah, suara, hingga ekspresi seseorang sehingga tampak nyata. Nama deepfake berasal dari gabungan kata deep learning dan fake. Prinsip dasarnya menggunakan algoritma Generative Adversarial Network (GAN), yaitu sistem yang dapat melatih komputer membuat tiruan video, gambar, atau audio yang sangat mirip dengan aslinya.

Teknologi ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2014 oleh Ian Goodfellow melalui metode GAN. Awalnya, deepfake dikembangkan untuk penelitian dan hiburan. Namun, seiring perkembangan teknologi dan ketersediaan aplikasi berbasis AI yang lebih mudah diakses, deepfake kini dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk pihak yang tidak bertanggung jawab.


Deepfake bekerja dengan dua komponen utama:
1. Generator – membuat tiruan gambar, suara, atau video palsu.
2. Discriminator – menilai apakah hasil tersebut asli atau palsu.

Keduanya berkompetisi secara terus-menerus hingga tercipta hasil manipulasi yang semakin sulit dibedakan dari konten asli. Dengan teknologi terbaru, proses ini bahkan bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik.

iklan sidebar-1

Meski identik dengan penyalahgunaan, deepfake sebenarnya memiliki beberapa manfaat positif:
- Industri hiburan: menghadirkan kembali aktor yang sudah meninggal dalam film, seperti Carrie Fisher di "Star Wars: The Rise of Skywalker".
- Pendidikan: menghadirkan tokoh sejarah seperti Bung Karno seolah kembali berpidato di hadapan generasi muda.
- Periklanan: memungkinkan iklan dibuat tanpa harus syuting ulang.
- Pelestarian budaya: menciptakan kembali tokoh atau peristiwa sejarah untuk kepentingan dokumentasi dan edukasi.

Namun, potensi penyalahgunaan deepfake lebih besar dan berbahaya, antara lain:
- Penipuan digital: suara atau wajah dipalsukan untuk mengelabui korban agar mentransfer uang atau membocorkan data penting.
- Penyebaran hoax: digunakan untuk membuat video palsu yang meresahkan masyarakat.
- Perusakan reputasi: seseorang bisa dijatuhkan hanya dengan rekaman manipulatif.
- Politik dan propaganda: dimanfaatkan untuk mengubah opini publik dan memicu konflik sosial.

Oleh karena itu, kesadaran, kewaspadaan, dan literasi digital masyarakat sangat penting agar kita dapat memanfaatkan deepfake pada sisi positifnya, tanpa terjebak dalam ancaman yang ditimbulkannya.***