INFOTREN.ID - Istilah "Lavender Marriage" (Pernikahan Lavender) belakangan ini kembali mencuat, sering kali muncul dalam perbincangan media sosial dan dikaitkan dengan rumor kehidupan publik figur. 

Namun, lebih dari sekadar isu viral, fenomena ini menyembunyikan realitas kompleks tentang tekanan sosial, perjuangan identitas, dan pengorbanan personal yang serius.

Lavender marriage didefinisikan sebagai pernikahan antara seorang pria dan wanita, di mana salah satu atau kedua pasangan memiliki orientasi seksual non-heteroseksual (misalnya homoseksual atau biseksual).

Pernikahan ini dilakukan bukan atas dasar cinta romantis atau ketertarikan seksual yang sesungguhnya, melainkan sebagai sebuah marriage of convenience (pernikahan demi kenyamanan) yang bertujuan utama untuk menyembunyikan orientasi seksual mereka dari publik.

Istilah "lavender" sendiri berasal dari asosiasi warna lavender yang secara historis dikaitkan dengan komunitas LGBTQ+, melambangkan non-konformitas dalam gender dan seksualitas.

iklan sidebar-1

Konsep Lavender Marriage bukanlah hal baru. Praktik ini berakar kuat di Hollywood pada era 1920-an hingga 1950-an. Pada masa tersebut, orientasi seksual non-heteroseksual dapat secara instan menghancurkan karier seorang bintang film karena adanya stigma sosial yang sangat kuat.

Bintang-bintang film akan menikah dengan lawan jenis untuk menciptakan citra publik yang "normal" dan diterima secara sosial, demi menjaga popularitas dan melindungi karier mereka dari kehancuran atau pemerasan (blackmail).

Pernikahan sejumlah bintang film legendaris, seperti Cole Porter dan Linda Lee Thomas, atau spekulasi yang mengelilingi pernikahan beberapa aktor klasik, sering disebut-sebut sebagai contoh historis dari lavender marriage.

Meskipun kesadaran dan penerimaan terhadap komunitas LGBTQ+ telah meningkat di banyak negara, praktik ini masih terjadi di masyarakat yang konservatif atau di lingkungan di mana tekanan untuk memenuhi norma heteronormatif (pernikahan pria dan wanita) masih sangat tinggi.