INFOTREN.ID - Otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) terus menggeser lanskap tenaga kerja global. Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) mengungkapkan bahwa jutaan pekerjaan, terutama di sektor administratif, diprediksi akan hilang dalam lima tahun ke depan. Pekerjaan seperti kasir, teller bank, operator data, hingga sekretaris eksekutif akan mengalami penurunan signifikan akibat percepatan adopsi teknologi.
Di sektor layanan, penggunaan mesin self-checkout dan chatbot telah menurunkan kebutuhan tenaga kasir dan staf layanan pelanggan. Di bidang transportasi, perusahaan logistik mulai menguji truk otonom dan drone pengantar barang, yang berpotensi menggantikan peran sopir dan kurir. Bahkan industri pertanian dan manufaktur turut terdampak, dengan meningkatnya penggunaan robot dan sistem pertanian presisi.
CEO Ford, Jim Farley, dalam wawancaranya dengan Business Insider (Juli 2025), menyebut bahwa setengah dari pekerjaan white-collar bisa tereliminasi oleh AI dalam waktu dekat. Hal ini diperkuat oleh peringatan ekonom MIT David Autor, yang menyoroti risiko "devaluasi keterampilan" akibat dominasi sistem otomatis dalam proses kerja. “Masalahnya bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga perubahan nilai kerja itu sendiri,” ujarnya.
Data dari berbagai lembaga global seperti JobZella dan QA India menunjukkan profesi lain yang rentan hilang, di antaranya telemarketer, agen perjalanan, petugas pos, pekerja pabrik, dan jurnalis tradisional. Perubahan ini dinilai tidak terhindarkan, terutama seiring perusahaan berlomba memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi lewat teknologi.
Meski demikian, transformasi ini juga membuka peluang di sektor lain. WEF menyebutkan peran-peran baru akan muncul di bidang teknologi informasi, kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan ekonomi hijau. Reskilling dan upskilling dinilai krusial, mengingat 59 persen tenaga kerja global perlu pelatihan ulang agar tetap relevan di pasar kerja yang berubah cepat.
Para pakar menyarankan agar tenaga kerja fokus pada pengembangan keterampilan berpikir analitis, adaptasi, serta kecerdasan emosional. “Mesin bisa menggantikan proses, tapi belum tentu bisa meniru empati dan penilaian manusia,” tulis laporan WEF.
Seiring dunia bergerak menuju era otomatisasi total, tantangan terbesar bukan hanya hilangnya pekerjaan, melainkan kecepatan manusia dalam beradaptasi.(*)


