INFOTREN.ID - Ketika sebuah negara tampak tumbuh secara makro, di balik angka sering tersembunyi keretakan ekonomi yang diakibatkan bukan hanya oleh faktor global tapi juga oleh ketidakaturan internal.
Di Filipina, misalnya, rasa optimisme sempat memudar saat skandal korupsi belanja publik memuncak dan mulai mengikis fondasi pertumbuhan.
Dalam arus itu, kita di Indonesia mesti tak hanya menyaksikan tapi juga merenung, mengingat bahwa risiko tersebut bisa mengintai di mana saja.
Skandal yang Menjatuhkan Filipina dalam Cerminan
Baru-baru ini, Filipina yang dikepalai oleh Presiden Ferdinand Romualdez Bongbong Marcos Jr. menghadapi sorotan ketika terungkap bahwa sejumlah besar anggaran untuk proyek pengendalian banjir hilang akibat praktik korupsi.
Laporan dari berbagai media seperti Bloomberg Technez (7/11) menunjukkan bahwa dana yang dialokasikan untuk proyek ini hingga “sampai 70 persen… dari total anggaran” hilang tanpa jejak.
Akibatnya, ekonomi negara itu mencatat pertumbuhan hanya 4,0 persen pada kuartal III 2025, jauh di bawah ekspektasi dan menjadi titik terendah sejak beberapa tahun terakhir.
Laporan menyebut bahwa dugaan kolusi antara anggota parlemen, pejabat pekerjaan umum, dan kontraktor proyek infrastruktur memperparah kerusakan “proyek tidak sesuai standar atau bahkan tidak dibangun sama sekali”.
Dengan kata lain: ketika belanja publik tak lagi diiringi transparansi dan akuntabilitas, bukan hanya proyek yang mandek kepercayaan investor pun ikut menguap.


