INFOTREN.ID - Kasus alergi pada anak di Indonesia semakin meningkat. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa sekitar 0,5-7,5 persen anak Indonesia mengalami alergi, angka yang meski terlihat kecil, namun berdampak besar pada kualitas hidup mereka.
Dilansir dari laman UGM, (1/10/2025), di tingkat global, World Allergy Organization (WAO) bahkan mencatat prevalensi alergi mencapai 10-40 persen populasi dunia.
Peningkatan ini menjadi alarm bagi orang tua, karena alergi bukan sekadar ruam kulit atau bersin-bersin biasa, melainkan bisa memengaruhi tumbuh kembang anak jika tidak ditangani dengan benar.
Alergi: Penyakit Bawaan yang Bisa Berkembang
Menurut dr. Cahya Dewi Satria, M.Kes, SpA, Subsp. AI, Dokter Spesialis Anak UGM, alergi sering kali merupakan penyakit bawaan.
“Alergi muncul karena sistem kekebalan tubuh memiliki sensitivitas yang berlebihan terhadap protein tertentu yang bagi individu lain tidak berbahaya,” jelasnya (30/9/2025).
Lebih jauh, Cahya menjelaskan konsep Allergic March, yakni perkembangan alergi sesuai fase usia anak:
- Masa bayi: sering muncul sebagai eksim atau dermatitis atopik.
- Usia 6 bulan-2 tahun: rentan mengalami alergi makanan, terutama dari susu sapi, telur, kacang-kacangan, atau seafood.
- Usia 7-10 tahun: cenderung berkembang menjadi rinitis alergi akibat paparan udara dan hirupan.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa alergi dapat berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain,” tegas Cahya.


