INFOTREN.ID - Di tengah gencarnya dukungan Uni Eropa (UE) terhadap Ukraina, ironi besar justru mengemuka.
Sejumlah negara sekutu utama Ukraina tetap melanjutkan pembelian energi dari Rusia, yang nilainya mencapai lebih dari €11,4 miliar atau setara Rp193,8 triliun dalam delapan bulan pertama tahun 2025.
Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkapkan bahwa tujuh dari 27 negara anggota UE justru meningkatkan nilai impornya dari Rusia dibanding tahun sebelumnya.
Yang paling mencolok, lima di antaranya adalah negara yang paling vokal mendukung Ukraina.
Seperti diwartakan dalam Reuters (10/10/2025) Prancis misalnya, mencatat lonjakan impor energi Rusia sebesar 40%, dengan nilai mencapai €2,2 miliar atau sekitar Rp37,4 triliun. Belanda juga naik tajam sebesar 72%, menjadi €498 juta atau Rp8,47 triliun.
Sebagian besar pasokan ini adalah LNG (gas alam cair) yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan besar Eropa, seperti di Prancis dan Spanyol, kemudian didistribusikan ke negara-negara lain.
Menurut analis CREA, Vaibhav Raghunandan, situasi ini menciptakan paradoks berbahaya.
"Kremlin secara harfiah mendapatkan dana untuk terus menginvasi Ukraina dari negara-negara yang mendukung Ukraina. Ini bentuk bunuh diri kebijakan," ujarnya.


