INFOTREN.ID - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), yang digagas oleh presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi), memang menyimpan ambisi besar.
Jokowi menyebutnya sebagai "investasi sosial," yang mengutamakan keuntungan bagi masyarakat luas daripada sekadar laba finansial. Namun, benarkah demikian?
"Prinsip dasar transportasi massal adalah layanan publik. Bukan mencari laba, tapi keuntungan sosial, social return on investment," ucap Jokowi.
Investasi Sosial atau Beban Finansial?
Jokowi berdalih bahwa Whoosh dibangun untuk mengatasi masalah kemacetan kronis di Jabodetabek dan Bandung.
Ia mengklaim bahwa kerugian ekonomi akibat kemacetan mencapai lebih dari Rp 100 triliun per tahun.
Dengan adanya Whoosh, diharapkan produktivitas masyarakat meningkat, emisi karbon berkurang, dan efisiensi waktu tempuh tercapai.
Namun, politikus Partai Demokrat, Herman Khaeron, justru mempertanyakan siapa yang akan menanggung kerugian proyek ini.
Ia sepakat bahwa Whoosh bisa bermanfaat jangka panjang, tetapi kejelasan mengenai kondisi finansial proyek tetap menjadi prioritas.


