INFOTREN.ID - Pasar properti residensial di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik.
Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis survei yang mengungkapkan adanya perlambatan pertumbuhan harga rumah pada kuartal III-2025.
Pertumbuhan hanya mencapai 0,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana dampaknya bagi konsumen serta investor?
Perlambatan yang Mengkhawatirkan?
Perlambatan pertumbuhan harga rumah ini sejalan dengan kontraksi penjualan unit properti residensial di pasar primer. Tercatat kontraksi sebesar 1,29 persen secara year-on-year (yoy).
Meski angka ini lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat penurunan 3,8 persen yoy, tetap saja menjadi sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya pulih.
Strategi Wait and See Pengembang
Menanggapi kondisi ini, para pengembang properti cenderung mengambil sikap hati-hati. Ali Tranghanda, Pengamat Properti sekaligus CEO Indonesia Property Watch (IPW), mengungkapkan bahwa pengembang masih wait and see dalam menaikkan harga properti residensial tahun ini.


