INFOTREN.ID - Siapa sangka, di balik perbukitan Menoreh yang asri, tersembunyi sebuah tradisi kuno yang bikin geleng-geleng kepala? Ritual unik ini bukan cuma sekadar tarian, tapi juga dipercaya bisa mendatangkan berkah awet muda. Bahkan, pejabat daerah pun ikut-ikutan! Apa sebenarnya yang terjadi di Kulon Progo ini?

Gamelan dan Cemeti: Awal Mula Kisah Mistis

Di sebuah padukuhan bernama Clapar II, suara gamelan berpadu dengan lecutan cemeti memecah kesunyian. Irama ini bukan sekadar hiburan, melainkan penanda janji yang dijaga lintas generasi. Janji tentang sebuah mata air abadi yang tak pernah kering, Sendang Sumber Rejo.

“Ini wujud syukur masyarakat karena mata air di sini tidak pernah kering. Dulu ini satu-satunya sumber air warga,” kata Arman dari Padukuhan Clapar I dilansir dari Kompas.com (18/1).

Ledhekan dan Jatilan: Tarian untuk Penjaga Gaib?

iklan sidebar-1

Setiap bulan Rajab, warga Clapar menggelar tari-tarian di sekitar mata air. Ada ledhekan yang gemulai, ada pula jatilan yang penuh semangat. Konon, tarian ini adalah persembahan untuk para penjaga gaib yang menjaga sendang hingga akhir zaman.

“Mereka itu suka tarian. Maka sampai sekarang, kalau ada ledhekan atau tayub, harus ada tarian kuda lumping,” kata Sutardi, Pamengku Adat Clapar.

Dari Perang ke Sumber Kehidupan: Kisah Ki Soderpo

Sendang Sumber Rejo berakar pada kisah pasca-Perang Diponegoro. Seorang pengikut Pangeran Diponegoro bernama Ki Soderpo melarikan diri dan singgah di Clapar. Dalam kesunyian dan keterbatasan, Ki Soderpo berdoa memohon air. Doanya dijawab dengan munculnya mata air yang menghidupi warga Clapar hingga kini.