Infotren.id - Dari sudut Rawajati, Kalibata, Jakarta, pada 2023 lahir satu nama yang kini mulai diperbincangkan di lingkar skena bawah tanah, yakni Sokras. Band punk ini datang dengan energi mentah, lirik satir, dan kritik sosial yang dilontarkan tanpa tedeng aling-aling.

Sokras bukan hadir sebagai hiburan ringan dan .ereka memosisikan musik sebagai medium sikap. Distorsi gitar, dentuman drum, dan teriakan vokal bukan sekadar elemen musikal, melainkan bentuk ekspresi atas kegelisahan yang mereka rasakan sebagai bagian dari generasi urban.

Humas Sokras, Lutihayu yang akrab disapa Greendie, menuturkan bahwa nama Sokras lahir dari realitas keseharian. 

"Istilah sok keras itu kan sering jadi stigma buat anak-anak kota. Kami ambil itu, kami balik maknanya. Kalau dianggap sok, ya sudah. Kami buktikan lewat karya bahwa kami memang punya sikap,” ujar Greendie saat berbincang dengan wartawan, Rabu (25/2/2026).

Band ini digerakkan oleh Saep (vokal), Ivan (gitar), Imam (gitar), Danu (bass), dan Mirza (drum). Debut mereka ditandai dengan mini album Panjang Umur Perlawanan, yang menjadi penanda arah musikal sekaligus ideologis Sokras. 

Lagu-lagu di dalamnya berbicara tentang ketimpangan, kerasnya hidup di kota, solidaritas, hingga kebebasan yang terasa makin mahal.

Menurut Greendie, setiap lirik yang ditulis lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar romantisme perlawanan. 

“Kami tidak mengarang keresahan. Apa yang kami tulis adalah apa yang kami lihat, kami alami, dan kami rasakan sendiri,” tegasnya.

Sokras juga menegaskan posisinya di jalur Urban Punk Rock sederhana, cepat, jujur, dan penuh energi. Mereka tidak mengejar industri arus utama. Prinsip Do It Yourself (DIY) menjadi fondasi gerak mereka dari proses rekaman, produksi rilisan, hingga distribusi karya dilakukan secara mandiri.