INFOTREN.ID - Di jalan-jalan yang mendidih oleh langkah mahasiswa dan derap suara rakyat, tersimpan perih yang tak ditampung lembaran undang-undang.
Mereka membawa lebih dari sekadar poster dan orasi. Mereka membawa sejarah, luka yang diwariskan, dan harapan yang dipaksakan tetap hidup dalam dada.
Ini bukan tentang hari ini saja. Ini adalah tentang terlalu banyak hari kemarin yang diabaikan.
Realitas yang Tak Terbantahkan: Gelombang yang Menyeruak dari Dalam
Gelombang demonstrasi bukan badai dadakan yang menyapu kota-kota. Ia tumbuh dari endapan kekecewaan yang lambat-lambat membusuk sejak pandemi menanggalkan selimut kesejahteraan dari rakyat biasa.
Di tengah kebijakan yang menari di atas meja elit, masyarakat hanya bisa menggenggam perih sambil berharap ada yang akhirnya mendengar.
Kepala PSKP UGM (Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada), Achmad Munjid mengungkapkan argumennya bahwa tindakan represif berlebihan hanya menambah bara, bukan meredam nyala.
Seolah lupa, bahwa api amarah tak padam oleh air keras, ia hanya berpindah bentuk menjadi bara yang lebih dalam.
“Tindakan represif berlebihan hanya akan menambah amarah publik, karena pada dasarnya kemarahan masyarakat saat ini dipicu kondisi sosial ekonomi yang makin berat, bukan sekadar isu tunggal,” kata Achmad Munjid dilansir dari laman resmi UGM.


