INFOTREN.ID - Siapa yang tak kenal Sariwangi? Merek teh legendaris ini telah menemani pagi dan sore hari masyarakat Indonesia selama beberapa generasi. Namun, tahukah Anda bahwa di balik keharuman tehnya, tersimpan kisah bisnis yang penuh liku dan drama?
Pelopor Teh Celup yang Mengubah Tradisi
Sariwangi memulai perjalanannya pada tahun 1960-an sebagai PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA). Di era itu, mereka berani mendobrak tradisi dengan memperkenalkan teh celup. Inovasi ini mengubah cara masyarakat menikmati teh, dari daun teh lepas yang ribet menjadi sajian praktis dalam kantong celup.
"Perkembangan Sariwangi mulai menonjol pada 1970-an. Pada periode tersebut, perusahaan memperkenalkan teh celup sebagai alternatif penyajian teh yang lebih praktis dibandingkan penggunaan daun teh lepas," dilansir dari Kompas.com diakses (10/1).
Masa Keemasan dan Daya Tarik Unilever
Popularitas Sariwangi terus meroket. Penjualannya mencapai 46.000 ton per tahun, dengan kapasitas produksi 8 juta kantong teh. Tak heran, raksasa FMCG, Unilever, kepincut dan mengakuisisi merek ini pada tahun 1989. Sejak saat itu, Sariwangi menjadi bagian dari portofolio produk Unilever yang mendunia.
Badai Finansial dan Kepailitan yang Menyakitkan
Namun, roda bisnis terus berputar. Ekspansi yang agresif ternyata membawa petaka bagi PT Sariwangi AEA. Memasuki tahun 2015, perusahaan terlilit utang hingga Rp 1,5 triliun. Akibatnya, pada tahun 2018, pengadilan memutuskan Sariwangi pailit. Sebuah akhir yang pahit bagi perusahaan yang pernah berjaya.

Ilustrasi Teh SariWangi (Dok Diolah Bloomberg Technoz)


