INFOTREN.ID - Menjelang fase puncak ibadah haji di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengingatkan para jemaah haji Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kesehatan akibat suhu tinggi di Tanah Suci.

‎“Cuaca di Mekkah dan sekitarnya saat ini sangat ekstrem, bahkan bisa mencapai 50 derajat Celsius. Kami mengimbau agar jemaah membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama saat siang hari,” ujarnya.

‎Ia bahkan menyarankan agar salat Jumat dilakukan di sekitar penginapan masing-masing guna menghindari paparan panas berlebihan.

‎Menag juga menekankan agar jemaah tidak memaksakan diri menjalani ibadah sunnah yang berat secara fisik, seperti umrah berkali-kali, karena dapat menguras stamina yang dibutuhkan untuk menjalani puncak haji.

‎“Fokuslah pada ibadah-ibadah pokok. Jangan sampai kelelahan karena aktivitas tambahan yang sebenarnya tidak diwajibkan,” tuturnya.

iklan sidebar-1

‎Selama berada di Arafah, jemaah diminta untuk tidak keluar tenda, termasuk tidak melakukan kunjungan ke Jabal Rahmah yang selama ini kerap menjadi tujuan ziarah. Pemerintah Arab Saudi akan meningkatkan pengawasan mobilitas jemaah untuk melindungi mereka dari bahaya kesehatan akibat panas ekstrem.

‎Dalam pertemuan antara delegasi Indonesia dan Menteri Kesehatan Arab Saudi, pihak Saudi menyampaikan kekhawatiran atas jumlah jemaah yang wafat, khususnya dari Indonesia. Mereka menanyakan sistem seleksi kesehatan calon jemaah serta kesiapan tenaga medis.

‎Nasaruddin menyampaikan bahwa sebelumnya dokter-dokter Indonesia sempat dibatasi dalam memberikan layanan medis di lokasi haji. Namun, setelah diskusi intensif, termasuk penjelasan dari Kepala BPOM sekaligus anggota Amirul Hajj, Taruna Ikrar, otoritas Saudi kini melonggarkan aturan tersebut.

‎“Dokter-dokter kita kini bisa kembali memberikan layanan kesehatan di klinik-klinik haji Indonesia. Ini penting, karena sebagian jemaah kesulitan berkomunikasi jika langsung dirujuk ke rumah sakit lokal,” jelasnya.