INFOTREN.ID - Chromebook, perangkat yang dijanjikan membawa asa baru bagi dunia pendidikan Indonesia, kini menjadi ironi.
Bantuan yang digagas Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, seharusnya menjadi jembatan bagi siswa untuk meraih mimpi di era digital.
Namun, realita berkata lain. Di Sumedang, Chromebook justru menjadi incaran komplotan pembobol sekolah, sementara di Mataram, fiturnya minim hingga tak bisa menunjang pelajaran TIK.
Luka di Sumedang
Di Sumedang, kisah pilu menghampiri dunia pendidikan. Komplotan maling menggasak sekolah-sekolah, membawa lari Chromebook yang seharusnya menjadi alat belajar.
Tujuh unit Chromebook menjadi barang bukti kejahatan. Ironisnya, laptop "pemberian" Nadiem Makarim ini justru menjadi barang curian.
Abdul Rahman alias Mumar (36), Nur Fadli (25), Farhan Fadilah (19), Badri (27), dan Erlangga (24) menjadi pelaku yang tega merampas mimpi para siswa.
Sementara Dedi Karta (38), sang penadah, menjual barang curian dengan harga miring, menambah luka dunia pendidikan.
Keluh di Mataram


