INFOTREN.ID - Di tengah dunia yang sedang berubah cepat, China kembali menegaskan arah langkahnya.
Pada pertengahan Oktober 2025 ini, Partai Komunis China menggelar sidang pleno penting untuk menentukan arah ekonomi lima tahun ke depan.
Fokus utamanya? Menggandakan kekuatan industri dan teknologi, meski dibayangi tekanan konsumsi domestik yang lemah dan persaingan geopolitik yang kian panas, terutama dengan Amerika Serikat.
"Dalam hal kekuatan keras sebuah negara, manufaktur masih menjadi prioritas utama," kata Chen Bo, peneliti di National University of Singapore dilansir dari Reuters (15/10/2025).
Menjaga Gengsi, Menekan Ketergantungan
China saat ini unggul dalam industri kendaraan listrik, panel surya, dan angin. Bahkan dominasinya dalam produksi rare earth digunakan sebagai alat tawar dalam ketegangan perdagangan menjelang kemungkinan pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump.
Namun di sisi lain, ketergantungan pada teknologi asing di sektor seperti semikonduktor dan pesawat tetap tinggi.
Maka, dorongan untuk "mengamankan posisi strategis" dalam perlombaan teknologi global menjadi semakin penting, seperti yang ditegaskan Presiden Xi dalam pidatonya Juli lalu.
“Jika kamu tidak mengembangkan industri kelas atas, kamu akan berada di bawah kuasa orang lain di masa depan,” ujar Guo Tianyong, profesor ekonomi di Beijing.


