INFOTREN.ID - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, baru-baru ini secara terbuka menyuarakan kecurigaannya terhadap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang kini dikenal sebagai Whoosh. 

Dalam pernyataannya, Mahfud menyoroti adanya dugaan penggelembungan biaya (mark up) yang sangat signifikan, yang berpotensi merugikan keuangan negara dan mengancam kedaulatan bangsa akibat beban utang yang besar.

Inti dari dugaan mark up yang dibongkar oleh Mahfud MD adalah perbedaan biaya pembangunan per kilometer yang jauh berbeda antara hitungan pihak Indonesia dengan harga yang seharusnya berlaku.

Mahfud MD menyebutkan bahwa berdasarkan data dan informasi yang ia terima Biaya pembangunan Kereta Cepat di Indonesia diperkirakan mencapai USD52 juta per kilometer.

Sementara itu, biaya pembangunan yang sama di Tiongkok hanya berkisar US17 hingga US18 juta per kilometer.

iklan sidebar-1

"Artinya naik tiga kali lipat. Ini yang menaikkan siapa, uangnya ke mana?" ujar Mahfud, menegaskan bahwa lonjakan biaya yang tidak wajar tersebut menimbulkan kecurigaan kuat terhadap praktik korupsi berupa mark up.

Mahfud juga menyinggung kembali kontroversi awal proyek ini, di mana Indonesia menolak tawaran pinjaman dari Jepang yang menawarkan bunga sangat rendah, dan kemudian beralih ke Tiongkok dengan skema business-to-business (B2B) tanpa jaminan APBN.

Namun, yang terjadi saat ini adalah bunga pinjaman dari China Development Bank (CDB) yang awalnya sekitar 2% kini membengkak menjadi sekitar 3,4%.

Selain itu, proyek mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) yang besar, dan pada akhirnya, Pemerintah terpaksa menyuntikkan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN untuk menutup kekurangan dana, melanggar janji awal proyek.