INFOTREN, ID – Kehidupan sederhana dijalani pasangan suami istri, Enci (65) dan Saniah (52), warga Tangerang Selatan (Tangsel). Sang suami sehari-hari bekerja sebagai pemulung, sementara sang istri berjualan kopi di kolong pintu tol Pamulang.
Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini harus rela tinggal di tanah negara dengan membangun gubuk kecil sebagai tempat berteduh. Di bangunan sederhana itulah mereka hidup bersama lima anaknya, Kamis (21/8/2025).
Meski memiliki KTP dengan alamat resmi di Kampung Cipayung RT 002/005, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, keluarga ini memilih bertahan di gubuk karena keterbatasan biaya.
Dalam kondisi serba kekurangan, Enci dan Saniah tetap berjuang agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan. Namun, harapan itu kini terganjal persoalan tunggakan.
Ijazah anaknya bernama Zulfikar (19), yang telah lulus dari SMK Al-Hidayah Ciputat hingga kini masih ditahan pihak sekolah lantaran keluarga belum mampu melunasi biaya yang diminta.
Saniah mengaku sedih melihat perjuangan anaknya seolah terhenti hanya karena persoalan uang.
“Kalau uang dapet dari jualan kopi ya buat makan. Kalau ada lebih baru bisa buat bayar sekolah. Tapi selama ini nggak pernah cukup,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Enci yang sehari-hari memulung pun tak bisa berbuat banyak. Pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk kebutuhan pokok, bahkan sering kali harus berhutang demi bertahan hidup.
"Saya kalau dapat uang cuma bisa buat makan sehari sudah habis. Hanya mulung kerja saya, kadang juga parkir kalau ada yang mancing," ungkapnya.


