INFOTREN.ID - Air bah yang menerjang Sumatera akhir November lalu tidak hanya membawa lumpur dan kayu-kayu besar, tetapi juga pesan keras: alam sudah terlalu lama dipaksa diam.
Derasnya banjir, tingginya korban, dan luasnya kerusakan mengungkap satu kenyataan pahit bahwa pembangunan yang tak ramah ekologi kini menagih balas dendam.
Cuaca Ekstrem Hanya Pemicu, Ekologi yang Rusak Adalah Penyebab Utama
Dalam beberapa jam, curah hujan ekstrem mengguyur wilayah Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat.
Namun para ahli menegaskan, bencana itu tak bisa semata-mata dikambinghitamkan pada cuaca.
Hatma Suryatmojo, pakar hidrologi dan konservasi DAS dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan bahwa hujan hanyalah titik awal.
Ia menegaskan, “Curah hujan memang tinggi, tetapi kerusakan ekosistem hutan di kawasan hulu jauh lebih menentukan,” dikutip dari situs web resmi UGM yang diakses pada (4/12).
Pernyataan ini menggarisbawahi lemahnya kondisi benteng alam di hulu sungai yang seharusnya menahan limpasan air.
Sementara itu, para ahli geospasial dari Institut Teknologi Bandung (ITB) seperti Muhammad Rais Abdillah menemukan bahwa interaksi atmosfer dan permukaan lahan yang telah banyak berubah dari hutan menjadi kebun monokultur hingga permukiman sehingga memperparah skala banjir bandang, dilansir dari laman resmi ITB yang diakses pada (4/12).


