INFOTREN.ID - Sebuah perbedaan kecil dalam rutinitas sehari-hari sering kali menyimpan narasi budaya yang dalam. Salah satunya adalah ritual setelah buang air besar: masyarakat di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, terbiasa membersihkan diri dengan air, sementara di sebagian besar negara Barat, tisu toilet adalah norma yang tak tergantikan.

Perbedaan ini bukan sekadar preferensi pribadi yang random, melainkan hasil interaksi kompleks antara sejarah, lingkungan, agama, dan bahkan pola makan peradaban selama berabad-abad.

Jejak Sejarah: Dari Batu, Daun, hingga Gulungan Tisu

Praktik cebok telah berevolusi jauh sebelum tisu toilet modern ada. Masyarakat kuno membersihkan diri dengan apa yang tersedia di lingkungan mereka. Bangsa Romawi kuno diketahui menggunakan batu atau spons bersama air. Di belahan dunia lain, dedaunan atau bahan alami serupa menjadi pilihan.

Lompatan signifikan terjadi di China, tempat kertas pertama kali ditemukan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat China-lah yang pertama kali menggunakan kertas sebagai alat pembersih setelah buang air besar. Praktik ini baru menyebar ke Eropa berabad-abad kemudian, dengan penyebutan awal oleh sastrawan Prancis François Rabelais pada abad ke-16—yang bahkan meragukan efektivitasnya.

iklan sidebar-1

Iklim dan Agama: Dua Pengaruh Kuat

Dua faktor utama membentuk kebiasaan ini: lingkungan fisik dan spiritual. Di wilayah beriklim dingin, kontak dengan air dingin bisa menjadi pengalaman yang tidak nyaman. Faktor ini membuat masyarakat di sana cenderung mencari alternatif yang kering, seperti tisu. Sementara, di wilayah tropis seperti Asia Tenggara dan Asia Selatan, air lebih melimpah dan suhunya sejuk, menjadikannya pilihan yang logis dan menyegarkan.

Agama juga memainkan peran penting. Dalam Islam dan Hindu, misalnya, penggunaan air untuk bersuci setelah buang air besar dianjurkan bahkan diwajibkan sebagai bagian dari thaharah (bersuci). Ajaran ini mengkristalkan kebiasaan penggunaan air di banyak masyarakat Timur.

Revolusi Industri dan Pola Makan