INFOTREN.ID - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa biaya pemilu di Jakarta bisa selangit? Wakil Ketua Umum Partai Perindo, Manik Marganamahendra, baru-baru ini memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia membongkar fakta bahwa banyak caleg (calon anggota legislatif) yang merasa insecure atau tidak percaya diri, sehingga rela mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah sebagai 'biaya politik' demi mendapatkan kursi pada Pemilu di DPRD DKI Jakarta. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Modal Gede Bukan Jaminan: Pengakuan Blak-blakan Waketum Perindo
Dalam sebuah diskusi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Manik mengungkapkan pengalamannya saat maju sebagai caleg pada Pemilu 2024 lalu. Ia mengaku mendengar kabar bahwa untuk mendapatkan satu kursi DPRD DKI Jakarta, seorang caleg membutuhkan modal sebesar Rp 5-10 miliar!
"Banyak yang bilang katanya di Jakarta untuk duduk satu kursi saja di Jakarta itu bisa Rp 5 miliar sampai dengan Rp 10 miliar katanya gitu, Rp 5 M sampai dengan Rp 10 M," ujar Manik dilansir dari Kompas.com (25/1).
Namun, Manik sendiri mengaku hanya menghabiskan Rp 200 juta untuk kampanye. Ia pun menegaskan bahwa uang tersebut digunakan murni untuk kegiatan kampanye, bukan untuk "membeli suara".
Politikus Insecure: Akar Masalah Biaya Politik Mahal?
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Manik menduga, tingginya biaya politik ini justru diciptakan oleh para politikus itu sendiri. Ia menilai, banyak caleg yang merasa tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri, sehingga memilih jalan pintas dengan membeli suara rakyat.
"Jangan-jangan selama ini adalah para politisi ini tuh merasa insecure dengan dirinya sendiri, sehingga harus mengeluarkan uang banyak dan katakanlah gitu ya, di masyarakat uang yang beredar adalah semuanya tumpuk-tumpukan uang gitu," kata dia.
Padahal, menurut Manik, seharusnya para caleg fokus pada penyampaian ide dan gagasan untuk masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat memilih berdasarkan kualitas dan visi misi caleg, bukan karena iming-iming uang.



