INFOTREN.ID - Pemerintah Israel mengumumkan rencana strategis jangka panjang terkait penanganan infrastruktur militer kelompok Hamas di Jalur Gaza.
Rencana ini menargetkan penghancuran seluruh sisa jaringan terowongan bawah tanah Hamas, yang dikenal sebagai 'Metro Gaza', namun dengan satu syarat utama eksekusi rencana tersebut baru akan dilakukan setelah seluruh sandera yang ditahan di Gaza dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata terbaru.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa penghancuran terowongan akan dilaksanakan sebagai fase pasca-kesepakatan sandera dan disebut telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat (AS).
Jaringan terowongan Hamas telah lama menjadi fokus utama operasi militer Israel. Terowongan ini menjadi infrastruktur vital bagi kelompok militan untuk menyimpan senjata, amunisi, dan roket.
Kemudian juga terowongan ini untuk memindahkan pejuang dan logistik tanpa terdeteksi dari permukaan. Markas komando dan pusat kendali operasi hingga tempat persembunyian para pemimpin dan lokasi penahanan sandera.
Para ahli memperkirakan total panjang jaringan terowongan ini mencapai ratusan kilometer, dengan kedalaman puluhan meter di bawah tanah perkotaan Gaza, bahkan di bawah gedung-gedung sipil seperti rumah sakit, sekolah, dan masjid.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Keputusan Israel untuk menunda operasi penghancuran masif terowongan hingga semua sandera kembali menegaskan bahwa pengembalian warga Israel yang ditahan Hamas adalah prioritas utama saat ini.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya, menggarisbawahi komitmen untuk mencapai pembebasan sandera, namun sekaligus mengingatkan bahwa "perjuangan belum berakhir."
Hal ini menunjukkan adanya dikotomi yang harus diatasi oleh Israel keselamatan sandera versus tujuan militer untuk melumpuhkan Hamas secara total.


