INFOTREN.ID – Dua tahun sejak konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus, Sudan kini terperosok ke dalam apa yang disebut oleh berbagai lembaga kemanusiaan sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia yang seolah terlupakan. 

Jutaan nyawa berada di ujung tanduk akibat pertempuran yang tak kunjung usai, kelaparan, dan hancurnya infrastruktur layanan dasar.

Data terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan skala bencana yang mengerikan.

Lebih dari 10 juta orang setara dengan sekitar seperlima total populasi telah terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Lebih dari 8,8 juta orang mengungsi di dalam negeri, mencari perlindungan di kamp-kamp yang penuh sesak atau tempat penampungan sementara tanpa akses memadai terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.

iklan sidebar-1

Lebih dari 3,5 juta orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga, seperti Chad dan Sudan Selatan, yang juga bergulat dengan sumber daya terbatas.

Selain ancaman kekerasan, momok kelaparan parah kini menjadi bahaya paling mematikan. Sekitar 26 juta orang menghadapi kerawanan pangan yang akut.

Situasi ini telah mencapai titik krisis, dengan laporan adanya pengumuman status kelaparan (famine) di beberapa lokasi, termasuk di kamp pengungsi Zamzam di Darfur. Ratusan ribu anak diperkirakan menghadapi risiko kematian akibat kekurangan gizi tanpa intervensi segera.

Perang telah melumpuhkan sistem kesehatan Sudan. Fasilitas kesehatan menjadi sasaran serangan, sementara akses bantuan kemanusiaan terhambat oleh hambatan politik, logistik, dan keamanan.