INFOTREN ID - Indonesia, negeri yang kita cintai, kembali terusik dengan isu pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) dalam penanganan demonstrasi yang sedang ramai belakangan ini.
Sebuah ironi, di mana kebebasan berekspresi dalam bentuk unjuk rasa seharusnya menjadi melodi indah dalam simfoni demokrasi, namun justru terdengar nada sumbang yang memilukan.
Di tengah gemuruh pembangunan, isu HAM seringkali menjadi catatan kelam yang nyaris terlupakan oleh zaman.
Ketika Aspirasi Bersemi, Kekerasan Menuai
Jalanan yang seharusnya menjadi panggung aspirasi, berubah menjadi saksi bisu kekerasan.
Setiap tetes air mata yang jatuh adalah melodi duka, setiap luka adalah goresan dalam kanvas sejarah bangsa.
Ironisnya, kekerasan seringkali menjadi jawaban atas perbedaan pendapat, sebuah paradoks yang mencoreng wajah demokrasi.
Potret Buram Keadilan
Bayangkan, saudara-saudara kita, dengan semangat membara menyuarakan harapan agar kebenaran ditegakkan seadil-adilnya.
Namun, harapan itu terbentur tembok kekerasan, meninggalkan trauma mendalam.
PBB, sebagai penjaga moral dunia, tak bisa tinggal diam. Dalam pusaran konflik, keadilan seringkali menjadi barang langka, sulit ditemukan di antara kepentingan yang saling bertentangan.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Seruan dari Langit, Gema di Bumi
Desakan dari Dewan Keamanan PBB bukan sekadar intervensi, melainkan seruan nurani yang menggema di seluruh dunia.
Ini adalah panggilan untuk menegakkan keadilan, memastikan bahwa setiap suara didengar, setiap hak dihormati.
Seperti yang diungkapkan oleh Juru Bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Ravina Shamdasani dalam video unggahannya, "Mengikuti dengan cermat rangkaian kekerasan di Indonesia dalam konteks demonstrasi nasional, pentingnya dialog untuk meredam ketegangan publik.”


