INFOTREN.ID  - Kasus seorang guru dikeroyok siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, memasuki babak baru! Insiden yang viral di media sosial ini ternyata menyimpan luka yang lebih dalam dari sekadar adu fisik melebihi film action. Lebih dari itu, insiden ini mencoreng dunia pendidikan dan menjadi sebuah skandal pendidikan yang memprihatinkan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Awal Mula Petaka: Tamparan Berujung Pengeroyokan

Semua bermula dari insiden kecil yang memicu emosi. Agus Saputra, guru bahasa Inggris di SMK tersebut, mengaku terpancing emosinya setelah mendengar kata-kata kasar dari salah seorang siswanya. "Awalnya saya dipanggil dengan kata-kata kasar oleh siswa. Saya datangi, lalu saya tampar sebagai bentuk pembelajaran," kata Agus, dilansir dari Kompas.com diakses pada Jumat (16/1).

Namun, tamparan itu ternyata menjadi bumerang. Tak terima dengan perlakuan tersebut, belasan siswa lainnya melakukan pengeroyokan terhadap Agus. Video pengeroyokan itu pun dengan cepat menyebar di media sosial, memicu berbagai reaksi dari warganet.

Pengakuan Sang Guru: Bertahun-tahun Jadi Korban Rundungan!

iklan sidebar-1

Agus tak tinggal diam. Ia memberikan klarifikasi terkait tudingan miring yang beredar di media sosial. Ia membantah tuduhan membawa senjata tajam dan menghina siswa miskin. Lebih mengejutkan lagi, Agus mengaku sudah bertahun-tahun menjadi korban perundungan oleh siswa-siswanya.

"Bertahun-tahun saya dirundung pelaku (anak yang ditampar). Siswa laki-laki lain juga begitu. Selama ini sabar karena risiko mengajar, tapi hari ini saya tidak tahan dan akhirnya menampar siswa itu," ungkapnya.

Mediasi Buntu: Keluarga Korban Tempuh Jalur Hukum!

Pihak sekolah, Dinas Pendidikan, dan kepolisian sempat melakukan mediasi untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Namun, mediasi tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi keluarga Agus. Mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses mediasi dan tidak terima dengan hasil yang diputuskan secara sepihak.