INFOTREN.ID - Pagi itu, 12 September 2025, Silverio Villegas Gonzalez seperti biasa menjalankan rutinitasnya: mengantar dua anaknya ke sekolah dan tempat penitipan anak. Ia tak tahu, itu akan menjadi hari terakhir dalam hidupnya.
Silverio, 38 tahun, imigran asal Irimbo, Meksiko, yang telah menetap di AS sejak 2007, ditembak mati oleh agen U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di kawasan Franklin Park, Chicago.
Penembakan terjadi saat ia hendak ditahan dalam operasi razia imigrasi besar-besaran yang diperintahkan Presiden Donald Trump.
Menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), Silverio disebut sebagai “imigran ilegal dengan catatan mengemudi sembrono” dan dianggap membahayakan petugas.
Namun, keluarga, rekan kerja, dan tetangganya menyampaikan cerita berbeda, cerita tentang seorang ayah penuh kasih yang telah membangun hidup sederhana dan menjauhi alkohol demi anak-anaknya.
Hidup Sederhana, Bekerja Keras
Silverio bekerja sebagai koki di sebuah kedai makanan cepat saji, Tom & Jerry’s Gyros.
Manajernya, Ashley Alekna, mengenang Silverio sebagai sosok pendiam, teliti, dan tak pernah absen. Hari itu, saat ia telat masuk kerja tanpa kabar, Alekna langsung merasa ada sesuatu yang salah.
"Dia orang yang tak pernah telat. Kalau pun telat 5 menit, pasti mengabari. Tapi pagi itu tidak ada kabar. Hati saya langsung tidak tenang," ujar Alekna.


