Infotren.id - Wilmar Group, salah satu konglomerasi agribisnis terbesar di Asia, kini tengah menjadi sorotan usai lima anak usahanya terseret dalam kasus dugaan korupsi ekspor CPO (crude palm oil). Kejaksaan Agung bahkan menyita dana sebesar Rp11,8 triliun dari Wilmar Group sebagai tersangka korporasi, menjadikannya salah satu penyitaan terbesar dalam sejarah penanganan korupsi di Indonesia. 


Di balik megahnya imperium agribisnis ini, terdapat dua tokoh kunci pendiri Wilmar Group yang perannya sangat krusial, yaitu Kuok Khoon Hong dan Martua Sitorus.

Kuok Khoon Hong adalah taipan asal Singapura yang dikenal luas di dunia komoditas dan agribisnis. Ia merupakan keponakan dari Robert Kuok, miliarder pendiri Kuok Group dan dikenal sebagai “Raja Gula Asia”. 

Sementara itu, Martua Sitorus adalah pengusaha asal Indonesia yang lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Keduanya mendirikan Wilmar International Limited pada tahun 1991 lewat perusahaan pertama mereka, Wilmar Trading Pte. Ltd. yang bermarkas di Singapura.

Di bawah kepemimpinan keduanya, Wilmar berkembang pesat menjadi raksasa industri sawit dunia. Dari kebun perdana seluas 7.100 hektar di Sumatera Barat, Wilmar kini memiliki lebih dari 230.000 hektar lahan tanam yang tersebar di Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara Afrika. 

iklan sidebar-1

Selain minyak sawit, Wilmar Group juga merambah ke berbagai sektor strategis lain, termasuk produksi mie instan, beras, tepung, dan pupuk.

Saat ini, Kuok Khoon Hong menjabat sebagai Chairman dan CEO Wilmar International, sementara Martua Sitorus sempat menjabat sebagai COO sebelum mengundurkan diri dari posisi eksekutif, meskipun namanya masih dikaitkan erat dengan kepemilikan dan pengaruh strategis di perusahaan.

Meski sedang dilanda isu hukum, Wilmar Group tetap menjadi simbol kekuatan agribisnis global yang tak bisa dipandang sebelah mata baik dari sisi kontribusi ekonominya maupun kontroversi yang melingkupinya.***