INFOTREN.ID — Sebuah video berdurasi singkat yang diunggah pada 20 Desember 2025 mendadak menembus batas lokal dan menjadi sorotan global. Bukan karena keindahan pantai atau gaya hidup tropis, melainkan karena rekaman percobaan penjambretan di siang hari yang membuat seorang turis asing menangis histeris di tengah jalan Canggu.

Korban diketahui bernama Arkusha, penyanyi dan influencer asal Rusia–Belarusia dengan lebih dari 500 ribu pengikut di Instagram. Dalam video yang beredar luas, terlihat upaya perampasan ponsel saat ia berjalan kaki dari sebuah pusat kebugaran menuju salon. Pelaku, seorang pengendara sepeda motor yang mengenakan atribut menyerupai pengemudi ojek online, mendekat dari belakang dan secara cepat meraih ponsel yang berada di tangan korban.

Aksi tersebut gagal hanya karena ponsel terlepas dan jatuh ke aspal. Namun kegagalan pelaku tidak berarti ketiadaan dampak. iPhone 17 Pro Max milik korban yang baru dibeli satu minggu sebelumnya rusak parah. Lebih dari itu, trauma psikologis langsung terlihat. Dalam video lanjutan yang direkam sendiri, Arkusha tampak syok dan menyatakan ia tak lagi merasa aman berjalan kaki di Bali.

Peristiwa ini menjadi sensitif bukan semata karena unsur kriminalitasnya, melainkan karena siapa korbannya dan bagaimana kisah itu tersebar. Arkusha bukan wisatawan anonim. Ia adalah figur publik dengan jangkauan internasional. Kesaksiannya, yang emosional dan tanpa filter, langsung dikonsumsi oleh ratusan ribu orang lintas negara dalam hitungan jam.

Pengamat pariwisata Bali dan Pendiri Hey Bali, Gregorius Adrianus Sinantong, menilai insiden ini sebagai ujian serius bagi rasa aman di kawasan wisata utama. Menurutnya, satu kejadian yang terekam dan viral dapat dengan cepat menggerus kepercayaan yang dibangun dalam waktu lama

iklan sidebar-1

"Satu insiden viral seperti ini bisa mengikis kepercayaan yang dibangun selama berbulan-bulan. Ini tamparan keras bahwa pariwisata berkelanjutan bukan cuma soal membangun infrastruktur megah atau menggelar event besar. Intinya ada pada keamanan publik sehari-hari dan penegakan hukum yang efektif serta terlihat, yang membuat penduduk dan pengunjung sama-sama merasa terlindungi," tegasnya.

Reaksi publik di kolom komentar menunjukkan kegelisahan yang nyata. Sejumlah ekspatriat dan wisatawan jangka panjang mengaku semakin waswas berjalan kaki di area yang selama ini dianggap aman. Modus pelaku yang menyerupai pengemudi ojek online juga menimbulkan kekhawatiran tambahan karena menyentuh simbol kepercayaan publik yang sudah mengakar.

Kasus ini turut membuka pertanyaan hukum yang kerap diabaikan, terutama bagi wisatawan asing. Korban mempertanyakan efektivitas pelaporan ketika barang tidak berhasil dicuri, meski mengalami kerusakan. Keraguan ini mencerminkan jarak persepsi antara korban dan sistem penegakan hukum.

Pada akhirnya, daya tarik Bali tidak hanya diukur dari lanskap dan fasilitas, tetapi dari rasa aman yang dirasakan siapa pun yang berjalan di jalannya. Respons cepat dan kehadiran pengamanan yang nyata akan menentukan apakah insiden ini berhenti sebagai peringatan, atau berubah menjadi preseden yang merusak kepercayaan dunia.