INFOTREN.ID - “Presiden tidak ingin kemiskinan diwariskan. Pendidikan adalah jalannya,” tegas Sekjen Kemensos Robben Rico, kalimat yang menggema seperti mantra harapan di tengah fakta masih lebarnya jurang sosial.

Program Sekolah Rakyat Kementerian Sosial (Kemensos), digagas pemerintah sebagai model sekolah gratis berasrama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, membawa semangat besar: memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan setara. 

Tahun 2025, pemerintah menargetkan 15.370 siswa di 159 lokasi sekolah, lengkap dengan asrama, fasilitas modern, dan pembelajaran digital.

Namun, sebagaimana janji besar lainnya, keberhasilan program ini bergantung bukan pada niat mulia semata, melainkan pada konsistensi eksekusi dan keadilan distribusi di lapangan.

Wajah Baru Pendidikan Inklusif

iklan sidebar-1

Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang belajar, melainkan ekosistem hidup yang dirancang untuk menumbuhkan karakter, keterampilan, dan literasi digital.

Fasilitasnya modern dari laboratorium keterampilan, perpustakaan digital, hingga asrama layak huni dengan jaminan gizi, kesehatan, dan laptop pembelajaran berbasis LMS.

Program ini juga menegaskan keberpihakan pada kelompok rentan dengan kuota minimal 5 persen bagi siswa berkebutuhan khusus.

Ini langkah berani, sekaligus ujian komitmen inklusivitas di tengah realitas infrastruktur dan kesiapan SDM yang belum merata di seluruh daerah.