Infotren.id - Setiap malam 1 Suro atau tahun baru dalam penanggalan Jawa, Kota Solo selalu dipenuhi nuansa sakral dengan tradisi kirab pusaka. Dua pusat budaya besar di Solo, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran, sama-sama menggelar kirab malam 1 Suro.
Meski tujuannya serupa, yakni melestarikan tradisi leluhur dan memohon keselamatan, nyatanya kedua kirab 1 Suro ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok dalam pelaksanaannya.
Ikon Kirab: Kebo Bule vs Tokoh Penting Pura
Salah satu perbedaan paling kentara adalah siapa yang menjadi cucuk lampah atau barisan terdepan dalam kirab. Di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kirab selalu diawali oleh Kebo Bule, yaitu kerbau berwarna putih keturunan Kiai Slamet.
Kebo bule ini dianggap keramat dan menjadi ikon kuat kirab 1 Suro di Keraton. Masyarakat meyakini kehadiran Kebo Bule membawa berkah dan keselamatan. Bahkan, banyak warga yang rela mengusap tubuh Kebo Bule atau mengambil jejak kakinya sebagai bentuk ngalap berkah.
Sementara itu, di Pura Mangkunegaran, kirab diawali oleh tokoh penting dari dalam Pura. Biasanya, mereka adalah keluarga besar atau abdi dalem Pura Mangkunegaran yang memiliki peran besar dalam upacara adat. Tidak ada kehadiran Kebo Bule seperti di Keraton Kasunanan, namun nuansa sakral tetap terasa kental.
Jalur Kirab dan Tradisi Laku Bisu
Meski berbeda dari sisi ikon, kedua kirab ini memiliki beberapa kesamaan. Jalur kirab keduanya sama-sama mengelilingi area luar tembok masing-masing kompleks, baik itu Keraton Kasunanan maupun Pura Mangkunegaran.
Ciri khas lain adalah penerapan laku bisu, di mana seluruh peserta kirab dilarang berbicara sepanjang prosesi berlangsung. Suasana hening ini dipercaya sebagai bentuk introspeksi diri, menahan hawa nafsu, sekaligus menghormati pusaka dan tradisi leluhur.
Kirab Pusaka sebagai Perekat Budaya
Kirab malam 1 Suro di Solo bukan sekadar tradisi adat, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik ribuan orang, baik warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
Di tengah perbedaan yang ada, baik Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran tetap menjaga makna utama kirab, yaitu memohon keselamatan, ketentraman, dan keberkahan untuk masyarakat.


